Kamis, 10 November 2011

Ventilator mekanis

BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
          Perkembangan teknologi semakin lama semakin pesat dan menyentuh hampir semua bidang kehidupan manusia. Pada akhirnya setiap individu harus mempunyai pengetahuan dan keterampilan untuk menggunakan teknologi, agar dapat beradaptasi terhadap perkembangan tersebut. Hal ini juga berlaku untuk profesi keperawatan, khususnya area keperawatan kritis di ruang perawatan intensif (intensif care unit/ICU).
          Di ruang perawatan kritis, pasien yang dirawat disana adalah pasien-pasien yang memerlukan mesin-mesin yang dapat menyokong kelangsungan hidup mereka, diantaranya mesin ventilator, monitoring, infus pump, syringe pump, dll. Dengan adanya keadaan tersebut maka tenaga kesehatan terutama perawat yang ada di ruang perawatan kritis, seharusnya menguasai dan mampu menggunakan teknologi yang  sesuai dengan mesin-mesin tersebut, karena perawat yang akan selalu ada di sisi pasien selama 24 jam.
          Pemanfaatan teknologi di area perawatan kritis terjadi dengan dua proses yaitu transfer dan transform teknologi dari teknologi medis menjadi  teknologi keperawatan. Tranfer  teknologi adalah pengalihan teknologi yang mengacu pada tugas, peran atau penggunaan peralatan yang sebelumnya dilakukan oleh satu kelompok profesional kepada kelompok yang lain. Sedangkan transform (perubahan) teknologi mengacu pada penggunaan teknologi medis menjadi bagian dari teknologi keperawatan untuk meningkatkan asuhan keperawatan yang diberikan dan hasil yang akan dicapai oleh pasien. Ventilasi mekanik yang lebih dikenal dengat ventilator merupakan teknologi medis yang ditransfer oleh dokter kepada perawat dan kemudian ditransform oleh keperawatan sehingga menjadi bagian dari keperawatan. Perawat pemula yang pengetahuan dan pengalaman teknologinya masih kurang akan menganggap ventilator sebagai beban kerja tambahan, karena mereka hanya bisa melakukan monitoring dan merekam hasil observasi pasien. Sedangkan pada perawat yang sudah berpengalaman akan memanfaatkan dan menggunakan ventilator sebagai bagian dari keperawatan untuk meningkatkan kualitas asuhan keperawatan kepada pasien di ruang kritis dan akan berdampak positif terhadap profesi keperawatan.
          Penguasaan terhadap teknologi akan menjadi modal bagi perawat untuk mengontrol pekerjaannya (Alasad, 2002). Hal tersebut tentu saja akan menghemat tenaga, dan membuat pekerjaan menjadi lebih mudah untuk dikerjakan serta diatur. Misalnya perawat yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan mengenai mesin ventilasi mekanik, hal tersebut akan membantu perawat menghemat tenaganya dalam mengawasi pernafasan pasien, karena tugasnya mengawasi secara langsung keadaan pasien sudah dilakukan oleh mesin ventilasi. Bahkan apabila ada keterbatasan tenaga perawat, maka 1 orang perawat dapat mengawasi dua atau lebih pasien yang juga sama-sama menggunakan mesin ventilasi mekanik. Jelaslah bahwa penguasaan  teknologi menjadi suatu kebutuhan dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien.

1.2    Tujuan Penulisan
       1.2.1    Tujuan Umum
          Mahasiswa mengetahui Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Alat Bantu Ventilasi.
       1.2.2    Tujuan Khusus
                        a.  Mahasiswa mengetahui definisi bantuan ventilasi.
                   b.  Mahasiswa mengetahui jenis-jenis bantuan ventilasi.
                   c.  Mahasiswa mengetahui setting ventilator.
                   d.  Mahasiswa mengetahui indikasi klien yang mendapat bantuan ventilator.
                   e.  Mahasiswa mengetahui komplikasi klien yang terpasang ventilasi.
                   f.       Mahasiswa mengetahui peran perawat pada klien dengan ventilator.

1.3  Metode Penulisan
                   Dalam penulisan makalah ini, penulis menggunakan metode deskriptif yaitu dengan penjabaran masalah-masalah yang ada dan menggunakan studi kepustakaan dari literatur yang ada, baik di perpustakaan maupun di internet.

1.4  Sistematika Penulisan
Makalah ini terdiri dari tiga bab yang disusun dengan sistematika penulisan sebagai berikut :
1.     BAB I           :       Pendahuluan, terdiri dari : latar belakang, tujuan  penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
2.     BAB II         :        Tinjauan teoritis terdiri dari : Definisi bantuan ventilasi, Jenis-jenis bantuan ventilasi, Setting Ventilator, Indikasi klien yang mendapat bantuan ventilator, Komplikasi klien yang terpasang ventilasi, Peran Perawat pada klien dengan Ventilator.
3.         BAB III       :         Penutup: terdiri dari kesimpulan dan saran.





























BAB II
TINJAUAN TEORITIS


2.1  Definisi
          Ventilator mekanis adalah alat pernafasan bertekanan negatif atau positif yang dapat mempertahankan ventilasi dan pemberian oksigen selama waktu yang lama (Brunner and Suddarth, 2001).
Merawat pasien pada ventilator mekanis telah menjadi bagian integral dari asuhan keperawatan di unit perawatan kritis, di unit medikal bedah umum, di fasilitas perawatan yang luas, dan bahkan di rumah. Perawat, dokter, dan ahli terapis pernapasan harus mengerti masing-masing kebutuhan pernapasan spesifik pasien dan bekerja bersama untuk membuat tujuan yang realistis. Rumusan penting untuk hasil pasien yang positf termasuk memahami prinsip-prinsip ventilasi mekanis dan perawatan yang dibutuhkan dari pasien, juga komunikasi terbuka diantara tim perawatan kesehatan tentang tujuan terapi, rencana penyapihan (weaning), dan toleransi pasien terhadap perubahan dalam pengesetan ventilator.







Gambar 2.1 Ventilator
2.2  Klasifikasi Ventilator
     Terdapat beberapa jenis ventilator mekanis.Ventilator diklasifikasikan berdasarkan cara alat tersebut mendukung ventilasi. Dua kategori umum adalah ventilator tekanan-negatif dan tekanan-positif.
     Sampai sekarang kategori yang paling umum digunakan adalah ventilator tekanan-positif. Ventilator tekanan-positif juga termasuk klasifikasi metoda fase inspirasi akhir (tekanan-bersiklus, waktu-bersiklus dan volume-bersiklus).
2.2.1        Ventilator Tekanan Negatif
         Ventilator tekanan negatif mengeluarkan tekanan negatif pada dada eksternal. Dengan mengurangi tekanan intratoraks selama inspirasi memungkinkan udara untuk mengalir ke dalam paru-paru, sehingga memenuhi volumenya. Secara fisiologis, jenis ventilasi terbaru ini serupa dengan ventilasi spontan. Ventilator jenis ini digunakan terutama pada gagal nafas kronik yang berhubungan dengan kondisi neurovaskular seperti poliomielitis, distrofimuskular, sklerosis lateral amiotrofik, dan miasteniagravis. Penggunaannya tidak sesuai untuk pasien yang tidak stabil atau pasien yang kondisinya membutuhkan perubahan ventilatori sering.
         Ventilator tekanan negatif adalah alat yang mudah digunakan dan tidak membutuhkan intubasi jalan nafas pasien. Ventilator ini digunakan paling sering untuk pasien dengan fungsi pernafasan borderline akibat penyakit neuromuskular. Akibatnya, ventilator ini sangat baik untuk digunakan di lingkungan rumah. Terdapat beberapa jenis ventilator tekanan negatif: iron lung, body wrap, dan chest cuirass.
         Drinker Respirator Tank (Iron Lung). Iron Lung adalah bilik tekanan negatif yang digunakan untuk ventilasi. Alat ini pernah digunakan secara luas selama epidemik polio pada masa lalu dan sekarang digunakan oleh pasien-pasien yang selamat dari penyakit polio dan kerusakan neuromuskular lainnya.
         Body Wrap (Pneumowrap) dan Chest Cuirass (Tortoise Shell). Kedua alat portabel ini membutuhkan sangkar atau shell yang kaku untuk menciptakan bilik tekanan negatif disekitar toraks dan abdomen. Karena masalah-masalah dengan ketepatan ukuran dan kebocoran sistem, jenis ventilator ini hanya digunakan dengan hati-hati pada pasien tertentu.


2.2.2        Ventilator Tekanan Positif
Ventilator tekanan positif menggembungkan paru-paru dengan mengeluarkan tekanan positif pada jalan nafas, serupa dengan mekanisme di bawah, dan dengan demikian mendorong alveoli untuk mengembang selama inspirasi. Ekspirasi terjadi secara pasif.
Pada ventilator jenis ini diperlukan intubasi endotrakea atau trakeostomi. Ventilator ini secara luas digunakan di lingkungan rumah sakit dan meningkat penggunaannya di rumah untuk pasien dengan penyakit paru primer. Terdapat tiga jenis ventilator tekanan positif, yaitu:
1.    Ventilator Tekanan-Bersiklus.
Ventilator tekanan bersiklus adalah ventilator tekanan positif yang mengakhiri inspirasi ketika tekanan preset telah tercapai. Dengan kata lain, siklus ventilator hidup, mengantarkan aliran udara sampai tekanan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya tercapai, dan kemudian siklus mati. Keterbatasan utama dengan ventilator jenis ini adalah bahwa  volume udara atau oksigen dapat beagam sejalan dengan perubahan tahanan atau kompliens jalan napas pasien. Akibatnya adalah suatu ketidakkonsistensian dalam jumlah volume tidal yang dikirimkan dan kemungkinan mengganggu ventilasi. Konsekuensinya, pada orang dewasa, ventilator tekanan-bersiklus dimaksudkan hanya untuk penggunaan jangka pendek di ruang pemulihan. Jenis yang paling umum dari ventilator jenis ini adalah mesin IPPB.
2.    Ventilator Waktu-Bersiklus
Ventilator waktu-bersiklus mengakhiri atau mengendalikan inspirasi setelah waktu yang ditentukan. Volume udara yang diterima pasien diatur oleh kepanjangan inspirasi dan frekuensi aliran udara. Sebagian besar ventilator mempunyai frekuensi kontrol yang menentukan frekuensi pernapasan, tetapi waktu-pensiklus murni jarang digunakn untuk orang dewasa. Ventilator ini digunakan pada neonatus dan bayi.
3.    Ventilator Volume-Bersiklus
Ventilator volume bersiklus sejauh ini adalah ventilator tekanan-positif yang paling banyak digunakan sekarang. Dengan ventilator jenis ini, volume udara yang akan dikirimkan pada setiap inspirasi telah ditentukan. Mana kala volume preset ini telah dikirimkan pada pasien, siklus ventilator mati dan ekshalasi terjadi secara pasif. Dari satu nafas ke nafas lainnya, volume udara yang dikirimkan oleh ventilator secara relatif konstan, sehingga memastikan pernapasan yang konsisten, adekuat meski tekanan jalan nafas beragam.

2.3  Gambaran dan Pengesetan Volume Vetilator
     Berbagai gambaran digunakan dalam penatalaksanaan pasien pada ventilator mekanis. Ventilator disesuaikan sehingga pasien merasa nyaman dan ”dalam harmoni” dengan mesin. Perubahan yang minimal dari dinamik kardiovaskuler dan paru diharapkan. Jika volume ventilator disesuaikan dengan tepat, kadar gas darah arteri pasien akan terpenuhi dan akan ada sedikit atau tidak ada sama sekali gangguan kardiovaskuler.
       Pengesetan awal ventilator setting :
1.      Atur mesin untuk memberikan volume tidal yang dibutuhkan (10-15 ml/kg).
2.      Sesuaikan mesin untuk memberikan konsentrasi oksigen terendah untuk mempertahankan PaO2 normal (80-100 mmHg). Pengesetan ini dapat diatur tinggi dan secara bertahap dikurangi berdasarkan pada hasil pemeriksaan gas darah arteri.
3.      Catat tekanan inspiratori puncak.
4.      Atur cara (bantu-kontrol atau ventilasi mandatori intermiten) dan frekuwensi sesuai dengan program medik dokter.
5.      Jika ventilator diatur pada cara bantu kontrol, sesuaikan sensivitasnya sehingga pasien dapat merangsang ventilator dengan upaya minimal (biasanya 2 mmHg dorongan inspirasi negatif).
6.      Catat volume 1 menit dan ukur tekanan parsial karbondioksida (PCO2) dan PO2, setelah 20 menit ventilasi mekanis kontinu.
7.      Sesuaikan pengesetan (FO2 dan frekuwensi) sesuai dengan hasil pemeriksaan gas darah arteri atau sesuai dengan yang ditentukan oleh dokter.
8.      Jika pasien menjadi bingung atau agitasi atau mulai “Bucking” ventilator karena alasan yang tidak jelas, kaji terhadap hipoksemia dan ventilasikan manual pada oksigen 100% dengan bag resusitasi.

2.4  Indikasi Ventilasi Mekanis
          Jika pasien mengalami penurunan kontinu oksigenasi (PaO2), peningkatan kadar karbondioksida arteri (PaCO2), dan asidosis persisten (penurunan pH), maka ventilasi mekanis kemungkinan diperlukan. Kondisi seperti pascaoperatif bedah toraks atau abdomen, takar lajak obat, penyakit neuromuskular, cedera inhalasi, PPOM, trauma multipel, syok, kegagalan multisistem, dan koma semuanya dapat mengarah pada gagal nafas dan perlunya ventilasi mekanis. Kriteria untuk ventilasi mekanis berfungsi sebagai pedoman dalam membuat keputusan untuk menempatkan pasien pada ventilator. Pasien dengan apnea yang tidak cepat pulih juga merupakan kandidat untuk ventilasi mekanis.
NO
PARAMETER
NILAI
TINDAKAN
1.









2.

3.

4.













5.

6.


7.

8.


9.

10.
Frekuensi Pernafasan.









Kapasitas Vital.

Tekanan inspirasi.

Gas darah Arteri.
   Ph




    PaCO2




     PaO2





Gradien pirau A-a

Auskultasi dada


Irama dan frekuwensi jantung
Aktivitas


Status mental

Observasi fisik
<10 kali/menit (penurunan kendali pernafasan.

16-20 kali/per menit.
28-40 kali/menit.





<10-20 ml/kg(cadangan pernafasan buruk).
<20 cm H2O atau cenderung menurun.

<7,25




<50mm/Hg



<50 mmHg dengan terapi O2



≥ 300 mmHg
≥ 25-30
Penurunan atau tidak ada bunyi nafas.

Nadi lebih dari 120, disritmia

Kelelahan berat, penurunan tolenransi aktivitas

Kacau mental, delirium, samnolen.
Penggunaan otot asesori, kelelahan, kerja pernafasan berat.
Evaluasi pasien dan hilangkan penyebab.
Normal.
Evaluasi pasien dan lakukan tindakan yang tepat.
Pertimbangkan intubasi/ventilasi terencana.
Lihat tanda gagal nafas.
Siapkan dukungan ventilator.

Evaluasi dikombinasi dengan peningkatan PaCO2.
Evaluasi dikombinasi dengan penurunan pH.
Evaluasi dikombinasi dengan pH dan PaCO2.


Beri O2 100%
Siapkan dukungan ventilator.
Monitor disritmia.

Evaluasi hal diatas dan lakukan tindakan tepat.
Monitor aktivitas kejang hipoksik.
Siapkan dukungan ventilator.
Tabel 2.1  Indikasi Ventilasi Mekanis
2.5  Komplikasi Ventilasi Mekanis
          Pasien dengan ventilator mekanis memerlukan observasi, keterampilan dan asuhan keperawatan berulang. Komplikasi yang dapat terjadi dengan terapi ventilator ini adalah:
1.    Komplikasi pada jalan nafas
          Aspirasi dapat terjadi sebelum, selama, atau setelah intubasi. Kita dapat meminimalkan resiko aspirasi setelah intubasi dengan mengamankan selang, mempertahankan manset mengembang, dan melakukan penghisapan oral dan selang kontinu secara adekuat. Bila resusitasi diperpanjang dan distensi gastrik terjadi, jalan nafas harus diamankan sebelum memasang selang nasogastrik untuk dekompresi lambung. Bila aspirasi terjadi potensial untuk terjadinya SDPA meningkat.
          Kebanyakan pasien dengan ventilator perlu dilakukan restrein pada kedua tangan, karena ekstubasi tanpa disengaja oleh pasien sendiri dengan aspirasi adalah komplikasi yang pernah terjadi. Selain itu self-extubation dengan manset masih mengembang dapat menimbulkan kerusakan pita suara.
          Prosedur intubasi itu sendiri merupakan resiko tinggi. Contoh komplikasi intubasi meliputi:
a.    Intubasi lama dan rumit         meningkatkan hipoksia dan trauma trakea.
b.    Intubasi batang utama (biasanya kanan)       ventilasi tak seimbang, meningkatkan laju mortalitas.
c.    Intubasi sinus piriformis (jarang)        abses faringeal
          Pnemonia Pseudomonas sering terjadi pada kasus intubasi lama dan selalu kemungkinan potensial dari alat terkontaminasi.
2.    Masalah Selang Endotrakeal
          Bila selang diletakkan secara nasotrakeal, infeksi sinus berat dapat terjadi. Alternatifnya, karena posisi selang pada faring, orifisium ke telinga tengah dapat tersumbat, menyebabkan otitis media berat, kapanpun pasien mengeluh nyeri sinus atau telinga atau terjadi demam dengan etiologi yang tidak diketahui, sinus dan telinga harus diperiksa untuk kemungkinan sumber infeksi.
          Beberapa derajat kerusakan trakeal disebabkan oleh intubasi lama. Stenosis trakeal dan malasia dapat diminimalkan bila tekanan manset diminimalkan. Sirkulasi arteri dihambat oleh tekanan manset kurang lebih 30 mm/Hg. Penurunan insiden stenosis dan malasia telah dilaporkan dimana tekanan manset dipertahankan kurang lebih 20 mm/Hg. Bila edema laring terjadi, maka ancaman kehidupan paskaekstubasi dapat terjadi.
3.    Masalah Mekanis
          Malfungsi ventilator adalah potensial masalah serius. Tiap 2-4 jam ventilator diperiksa oleh staf keperawatan atau pernafasan. VT tidak adekuat disebabkan oleh kebocoran dalam sirkuit atau manset, selang atau ventilator terlepas, atau obstruksi aliran. Selanjutnya disebabkan oleh terlipatnya selang, tahanan sekresi, bronkospasme berat, spasme batuk, atau tergigitnya selang endotrakeal.
          Secara latrogenik menimbulkan komplikasi melampaui kelebihan ventilasi mekanis yang menyebabkan alkalosis respiratori dan karena ventilasi mekanis menyebabkan asidosis respiratori atau hipoksemia. Penilaian GDA menentukan efektivitas ventilasi mekanis. Perhatikan, bahwa pasien PPOM diventilasi pada nilai GDA normal mereka, yang dapat melibatkan kadar karbondioksida tinggi.
4.    Barotrauma
Ventilasi mekanis melibatkan “pemompaan” udara kedalam dada, menciptakan tekanan positif selama inspirasi. Bila TEAP ditambahkan, tekanan ditingkatkan dan dilanjutkan melalui ekspirasi. Tekanan positif ini dapat menyebabkan robekan alveolus atau emfisema. Udara kemudian masuk ke area pleural, menimbulkan tekanan pneumotorak-situasi darurat. Pasien dapat mengembangkan dispnea berat tiba-tiba dan keluhan nyeri pada daerah yang sakit. Tekanan ventilator menggambarkan peningkatan tajam pada ukuran, dengan terdengarnya bunyi alarm tekanan. Pada auskultasi, bunyi nafas pada area yang sakit menurun atau tidak ada. Observasi pasien dapat menunjukkan penyimpangan trakeal. Kemungkinan paling menonjol menyebabkan hipotensi dan bradikardi yang menimbulkan henti jantung tanpa intervensi medis. Sampai dokter datang untuk dekompresi dada dengan jarum, intervensi keperawatannya adalah memindahkan pasien dari sumber tekanan positif dan memberi ventilasi dengan resusitator manual, memberikan pasien pernafasan cepat.
5.    Penurunan Curah Jantung.
Penurunan curah jantung ditunjukkan oleh hipotensi bila pasien pertama kali dihubungkan ke ventilator ditandai adanya kekurangan tonus simpatis dan menurunnya aliran balik vena. Selain itu hipotensi adalah tanda lain dan gejala dapat meliputi gelisah yang tidak dapat dijelaskan, penurunan tingkat kesadaran, penurunan haluarana urine, nadi perifer lemah, pengisian kapiler lambat, pucat, lemah, dan nyeri dada. Hipotensi biasanya diperbaiki dengan meningkatkan cairan untuk memperbaiki hipovolemia.
6.    Keseimbangan air positif
Penurunan aliran balik vena ke jantung dirangsang oleh regangan reseptor vagal pada atrium kanan. Manfaat hipovolemia ini merangsang pengeluaran hormon antidiuretik dari hipofise posterior. Penurunan curah jantung menimbulkan penurunan haluaran urine melengkapi masalah dengan merangsang respons aldosteron renin-angiotensin. Pasien yang bernafas secara mekanis, hemodinamik tidak stabil, dan yang memerlukan jumlah besar resusitasi cairan dapat mengalami edema luas, meliputi edema sakral dan fasial.

2.6  Asuhan Keperawatan
       2.6.1    Pengkajian
                             Perawat mempunyai peran penting dalam mengkaji status pasien dan fungsi ventilator. Dalam mengkaji pasien, perawat mengevaluasi hal-hal berikut:
a.       Tanda-tanda vital.
b.      Bukti adanya Hipoksia (Gelisah, Ansietas, Takikardia, Peningkatan Frekuensi Pernapasan, Sianosis).
c.       Frekuensi dan Pola Pernapasan.
d.      Bunyi Napas.
e.       Status Neurologis.
f.       Volume Tidal, Ventilasi Satu Menit, Kapasitas Vital Kuat.
g.      Kebutuhan Penghisapan.
h.      Upaya Ventilasi Spontan Pasien.
i.     Status Nutrisi.
j.     Status Psikologis.
         Pengkajian fungsi jantung. Perubahan dalam curah jantung dapat terjadi sebagai akibat ventilator tekanan positif. Tekanan intratorak positif selama inspirasi menekan jantung dan pembuluh darah besar, dengan demikian mengurangi arus balik vena dan curah jantung. Hal ini biasanya diperbaiki selama ekshalasi ketika tekanan positif mati. Tekanan positif yang berlebihan dapat menyebabkan pneumotoraks spontan akibat trauma pada alveoli. Kondisi ini dapat dengan cepat berkembang menjadi pneumotoraks tension, yang lebih jauh lagi mengganggu arus balik vena, curah jantung, dan tekanan darah.
         Untuk mengevaluasi fungsi jantung, perawat pertama-tama harus memperhatikan tanda-tanda dan gejala-gejala hipoksemia dan hipoksia (gelisah, gugup, kelam pikir, takikardia, takipnea, pernapasan labored, pucat yang berkembang menjadi sianosis, berkeringat, hipertensi transien, dan penurunan haluaran urin). Jika terpasang kateter arteri pulmonal, curah jantung, indeks jantung, dan nilai-nilai hemodinamik lainnya dapat ditentukan.
         Pengkajian peralatan. Ventilator juga harus dikaji untuk memastikan bahwa ventilator berfungsi dengan tepat dan bahwa pengesetannya telah dibuat dengan tepat. Meski perawat tidak benar-benar bertanggung jawab terhadap penyesuaian pengesetan pada ventilator atau pengukuran parameter ventilator (biasanya ini merupakan tanggung jawab dari ahli terapi pernapasan). Perawat bertanggung jawab terhadap pasien dan karenanya harus mengevaluasi bagaimana ventilator mempengaruhi status pasien secara keseluruhan. Dalam memantau ventilator, perawat harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.    Jenis ventilator (volume bersiklus, tekanan bersiklus, tekanan negatif).
2.    Cara pengendalian (kontrol, bantu/kontrol, intermitent mandatory, ventilation).
3.    Pengesetan volume tidal dan frekuensi.
4.    Pengesetan F1O2 (fraksi oksigen yang diinspirasi).
5.    Tekanan inspirasi yang dicapai dan batasan tekanan.
6.    Pengesetan sigh (biasanya 1,5x dari volume tidal dan berkisar dari 1-3/jam) jika memungkinkan.
7.    Adanya air dalam selang, terlepasnya sambungan, atau terlipatnya selang.
8.    Humidifikasi (humidifier dengan air).
9.    Alarm (fungsi yang sesuai).
10.                        PEEP (tekanan akhir ekspiratori positif) atau tingkat dukungan tekanan, jika memungkinkan
2.6.2    Diagnosa keperawatan
Berdasarkan pada data pengkajian, diagnosa keperawatan mayor pasien dapat  mencangkup :
1.    Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan penyakit yang mendasari, atau penyesuaian pengesetan ventilator selama stabilisasi penyapihan.
2.    Ketidak efektifan jalan napas yang berhubungan sengan pembentukan lendir yang berkaitan dengan ventilasi mekanis tekanan positif kontinu.
3.    Resiko terhadap trauma dan infeksi berhubungan dengan inkubasi endotrakea dan trakeostomi.
4.    Kerusakan mobilitas fisik yang berhungan dengan ketergantungan ventilator.
5.    Kerusakan komunikasi verbal berhungan dengan tekanan selang endotrakea dan pemasangan pada ventilator.
6.    Koping individu tidak efektif dan ketidak berdayaan yang berhungan dengan ketergantunagn pada ventilator
2.6.3    Intervensi Keperawatan
         Meningkatkan pertukaran gas. Tujuan menyeluruh ventilasi mekanis adalah untuk mengoptimalkan pertukaran gas dengan mempertahankan ventilasi alveolar dan pengiriman oksigen. Perubahan pertukaran gas dapat dikarenakan penyakit yang mendasari atau faktor-faktor mekanis yang berhubungan dengan penyesuaian dari mesin dengan pasien. Tim perawatan kesehatan, termasuk perawat, dokter, dan ahli trapi pernapasan, secara kontinu mengkaji pasien terhadap pertukaran gas yang adekuat, tanda dan gejal hipoksia, dan respon terhadap tindakan.
Intervensi keperawatan dengan pasien ventilator mekanis tidak berbeda secara unik dengan pasien gangguan paru lainnya namun kebutuhan akan pengamatan keperawatan dan penegakan hubungan perawat-pasien yang terapeutik adalh sangat penting. Konstilasi intervensi yang digunakan oleh perawat ditentukan oleh proses penyakit yang mendasari dan respon pasien. Sebagai contoh pertukaran gas yang tidak adekuat dapat berhubungan dengan faktor yang sangat beragam: tingakat kesadaran yang berubah, atelektasis, kelebihan cairan, nyeri insisi, atau penyakit primer seperti pnemonia.
         Sebagai akibat, intervensi keperawatan untuk meningkatkan pertukaran gas yang optimal termaksud pemberian medikasi nyeri secara bijaksana untuk menghilangkan nyeri tetapi bukan untuk secara signifikan menurunan dorongan pernapasan, dan seringnya perubahan posisi untuk menghilangkan efek pernapasan terhadap inmobilitas.
         Perawat juga memantau keseimbangan cairan yang adekuat dengan mengkaji adanya edema perifer. Menghitung pasukan dan haluaran urin, Dan memantau berat badan harian. Perawat memberikan medikasi untuk mengontrol penyakit primer dan memantau potensial efek samping obat yang diberikan. Pengisapan steril jalan napas bawah disertai dengan fisio trapi dada (perkusi, fibrasi) adalah stategi lain untuk membersihkan jalan napas dari kelebihan sekresi.
Dua intervensi keperawatan umum yang terutama penting untuk pasien yang mendapat ventilasi secara mekanis adalah auskultasi paru dan interpretasi gas darah arteri. Perawat sering menjadi orang pertama yang mengetahui perubahan dalam temuan pengkajian fisik atau kecendrungan siknifikan dalam gas darah yang menandakan terjinya masalah siknifikan (pnemotorak, perubahan letak selang, embolisme pulmonal)
Penatalaksanaan jalan nafas. Ventilasi tekanan positif kontinu meningkatkan pembentukan sekresi apapun kondisi pasien yang mendasari, perawat harus mengidentifikasi adanya sekresi dengan auskultasi paru sedikitnya setiap 2/4 jam. Tindakan untuk membersihkan jalan nafas dari sekresi termasuk pengisapan. Fisioterapi dada, perubahan posisi yang sering, dan peningkatan mobilitas secepat mungkin.
Mekanisme sigh pada ventilator mungkin dapat disesuaikan untuk memberikan sedikitkan 1/3 sigh/jam pada 1,5 kali volume tidal jika pasien menggunakan ventilator bantu kontrol. Karena resiko hiperventilitas dan trauma pada jaringan paru akibat kelebihan tekanan ventilator (baro trauma, pneumothorax). Jika pasien menggunakan mode ventilasi madatori intermitent (IMV). Ventilasi mandatori bekerja sebagai sigh karena ventilasi ini mempunyai volume lebih besar dibanding pernafasan spontan pasien
Sigh priodik mencegah atelektasis dan retensi sekresi lanjut. Humidifikasi dengan cara ventilator dipertahankan untuk membantu pengenceran sekresi sehingga sekresi lebih mudah dikeluarkan. Bronkodilator, baik intravena atau inhalasi, diberikan sesuai dengan resep untuk mendilatasi bronkiolus sehingga sekresi dapat dengan mudah dikeluarkan.
Mencegah trauma dan infeksi.  Penatalaksanaan jalan nafas harus mencakup pemeliharaan selang endotrakeal atau trakeostomi. Selang ventilator diposisikan sedemikian rupa sehingga hanya sedikit kemungkinan tertarik penyimpangan selang dalam trakea. Hal ini mengurangi trauma pada trakea. Tekanan manset harus dipantau setiap 8 jam untuuk mempertahankan dibawah 25 cm H2O. Adanya kebocoran cuff dievaluasi pada waktu yang sama
Perawat trakeostomi dilakukan sedikitnya setiap 8 jam dan lebih sering jika diindikasikan karena peningkatan resiko infeksi. Higiene oral sering dilakukan karena rongga oral merupakan sumber utama kontaminasi paru-paru pasien yang diintubasi dan pasien lemah. Adanya selang nasogastrik dan penggunaan antasida pada pasien dengan ventilasi mekanis juga telah mempredisposisikan pasien pada pneumonia nosokomial akibat aspirasi subklinis. Pasien juga harus diposisikan dengan kepala dinaikkan lebih tinggi dari perut sedapat mungkin untuk mengurangi aspirasi isi lambung.
Peningkatan tingkat mobilitas optimal. Mobilitas pasien terbatas karena dihubungkan dengan ventilator. Pasien yang kondisinya menjadi stabil harus dibantu untuk turun dari tempat tidur dan kekursi segera saat memungkinkan. Mobilitas dan aktivitas otot sangat bermanfaat karena menstimulasi pernafasan dengan memperbaiki semangat mental. Jika pasien tidak mampu untuk turun dari tempat tidur, maka latihan rentang gerak pasif dan aktif dilakukan setiap 8 jam untuk mencegah atrofi otot, kontraktur dan stasis vena.
Meningkatkan komunikasi optimal. Metode komunikasi alternatif harus dikembangkan untuk pasien dengan ventilator. Perawat mengkaji komunikasi pasien bila keterbatasan pasien diketahui, perawat memberikan beberapa pendekatan komunikasi; membaca gerak bibir, kertas dan pinsil, papan komunikasi; bahasa gerak tubuh, penggunaan ‘’berbicara’’ dapat disarankan pada dokter untuk memungkinkan pasien bicara sementara iya dengan ventilator pasien harus dibantu untuk menemukanmetoda komunikasi yang paling cocok. Beberapa metoda dapat membuat frustasi baik bagi pasien maupun bagi perawat. Dan metode ini hal diidentifikasi dan diminimalkan.
Meningkatkan kemampuan koping. Ketergantungan pada ventilator sangat menakutkan baik bagi pasien maupun keluarga. Dengan memberika dorongan pada mereka untuk mengungkapkan perasaan mereka dengan ventilator, kondisi pasien, lingkungan, akan sangat bermanfaat. Memberikan penjelasan semua prosedur setiap kali dilakukan untuk membantu mengurangi ansietas, untuk memulihkan rasa kontrol pasien didorong untuk ikut serta dalam pembuatan keputusan tentang perawatan, jadwal,  dan tindakan bila memungkinkan. Pasien mungkin menjadi menarik diri selama ventilasi mekanis, trauma jika berkepanjangan akibatnya perawat harus menginformasikan tentang kemajuannya pada pasien bila memungkinkan. Tekhnik penurunan stres (pijat punggung, tindakan relaksasi) membantu mlepaskan ketegangan dan memampukan pasien untuk menghadapi ansietas dan ketakutan tentang kondisi dan ketergantungan pada ventilator
2.6.4    Evaluasi Keperawatan
Hasil yang diharapkan:
1.    Menunjukkan pertukaran gas, kadar gas darah arteri, tekanan arteri  pulmonal, dan tanda-tanda vital adekuat.
2.    Menunjukkan ventilasi yang adekuat dengan akumulasi lendir yang minimal.
3.    Bebas dari cedera atau infeksi seperti yang dibuktikan dengan suhu tubuh dan jumlah sel darah putih.
4.    Dapat aktif dalam keterbatasan kemampuan.
5.    Berkomunikasi secara efektif melalui pesantertulis, gerak tubuh, alat komunikasi lainnya.
6.    Dapat mengatasi masalah secara efektif.





BAB III
PENUTUP


3.1  Kesimpulan
          Ventilator mekanis adalah alat pernafasan bertekanan negatif atau positif yang dapat mempertahankan ventilasi dan pemberian oksigen selama waktu yang lama (Brunner and Suddarth, 2001).
     Terdapat beberapa jenis ventilator mekanis.Ventilator diklasifikasikan berdasarkan cara alat tersebut mendukung ventilasi. Dua kategori umum adalah ventilator tekanan-negatif dan tekanan-positif.Sampai sekarang kategori yang paling umum digunakan adalah ventilator tekanan-positif.
     Berbagai gambaran digunakan dalam penatalaksanaan pasien pada ventilator mekanis. Ventilator disesuaikan sehingga pasien merasa nyaman dan ”dalam harmoni” dengan mesin. Perubahan yang minimal dari dinamik kardiovaskuler dan paru diharapkan. Jika volume ventilator disesuaikan dengan tepat, kadar gas darah arteri pasien akan terpenuhi dan akan ada sedikit atau tidak ada sama sekali gangguan kardiovaskuler.
     Jika pasien mengalami penurunan kontinu oksigenasi (PaO2), peningkatan kadar karbondioksida arteri (PaCO2), dan asidosis persisten (penurunan pH), maka ventilasi mekanis kemungkinan diperlukan. Kondisi seperti pascaoperatif bedah toraks atau abdomen, takar lajak obat, penyakit neuromuskular, cedera inhalasi, PPOM, trauma multipel, syok, kegagalan multisistem, dan koma semuanya dapat mengarah pada gagal nafas dan perlunya ventilasi mekanis

3.2  Saran.
          Perawat yang bekerja di ruang kritis hendaknya adalah perawat yang berpengalaman atau perawat yang mau belajar untuk meningkatkan pengetahuannya mengenai teknologi di ruang kritis terkait penggunaan mesin-mesin penunjang kehidupan yang digunakan oleh pasien-pasiennya. Penguasaan teknologi di ruang kritis merupakan tantangan bagi profesi keperawatan. Perawat pemula ataupun perawat berpengalaman akan memanfaatkan teknologi dengan cara yang berbeda, namun hal ini tetap mempunyai implikasi yang sama terhadap praktek keperawatan yaitu mengembangkan cara-cara baru dalam melakukan asuhan keperawatan.
Perawat diharapkan harus mampu untuk menganalisa manfaat transfer dan transform teknologi dari teknologi medis menjadi teknologi keperawatan, tidak hanya di area keperawatan kritis tapi juga di area-area keperawatan lainnya. Hal ini sebenarnya akan meningkatkan kualitas praktek dan profesi keperawatan. Namun sayangnya masih ada perawat yang beranggapan bahwa teknologi di suatu area keperawatan merupakan suatu tambahan pekerjaan bagi perawat.  




























DAFTAR PUSTAKA


Anymous. 2006. Ventilator mekanik. diakses dari http://wikipedia.org/wiki/Mechanical_ventilation pada tanggal 13 Desember 2010.
Anymous. 2008. Weaning from a ventilator diakses dari httpm://www/northeastcenter.com/weaning from a ventilator.htm pada tanggal 13 Desember 2010.
Hudak, Carolyn dkk.1997. Keperawatan Kritis Volume 1. Jakarta: EGC
Smeltzer, Suzanne, 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Volume 1. Jakarta: EGC
Wong, D.L. et all. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik vol 2. Jakarta: EGC












Tidak ada komentar:

Poskan Komentar