Jumat, 11 November 2011

epistaksis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1         LATAR BELAKANG
Epistaksis atau perdarahan hidung (mimisan) adalah perdarahan akut yang berasal dari cuping hidung, lubang hidung atau nasofaring. Hal ini sering ditemukan sehari-hari dan merupakan masalah yang sangat lazim, dan hampir 90% dapat berhenti sendiri.
Perdarahan spontan dari rongga hidung 90% berasal dari daerah anteroinferior septum nasi yang disebut daerah Kiesselbach. Sekitar 10% berasal dari bagian posterior rongga hidung dan biasanya lebih sulit diatasi.
Epistaksis bukan merupakan suatu penyakit, melainkan sebagai gejala dari suatu kelainan.Untuk itu dibutuhkan anamnesis yang ringkas dan tepat, dan pemeriksaan fisik bersamaan dengan persiapan untuk menanggulangi epistaksis. Setelah perdarahan berhenti, lakukan evaluasi sistemik untuk menentukan penyebab. Pada tahap ini, mungkin diperlukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang lebih lengkap, evaluasi labortaorium, pemeriksaan sinar-X rutin dan bahkan angiografi.
Insiden atau Angka kejadian di US adalah 1 diantara 7 orang. Dalam kepustakaan lain dituliskan bahwa ± 11% orang Amerika mengalami epistaksis dalam sepanjang hidup mereka. Tidak ada predileksi yang tepat pada jenis kelamin.
Kematian sering disebabkan oleh komplikasi akibat hipovolemik pada epistaksis yang berat/profuse. Peningkatan morbiditas berhubungan dengan aplikasi nasal (nasal packing). Tampon posterior dapat berpotensial menyebabkan kelainan pada jalan napas dan memicu terjadinya serangan jantung pada orang tua. Pemasangan tampon ini juga dapat menjadi sumber infeksi. Epistaksis lebih sering dijumpai pada umur 2-10 tahun dan 50-80 tahun.

1.2         TUJUAN PENULISAN
1.2.1   TUJUAN UMUM
Untuk dapat memahami tentang Asuhan Keperawatan Efistaksis
1.2.2   TUJUAN KHUSUS
1.2.2.1                Mahasiswa dapat menjelaskan dengan tepat dan benar tentang definisi efiataksis
1.2.2.2                Mahasiswa dapat menjelaskan dengan tepat dan benar tentang anatomi dan fisiologi hidung
1.2.2.3                Mahasiswa dapat menjelaskan dengan tepat dan benar tentang etiologi efistaksisi
1.2.2.4                Mahasiswa dapat menjelaskan dengan tepat dan benar tentang fatofisiologi
1.2.2.5                Mahasiswa dapat menjelaskan dengan tepat dan benar tentang klasifikasi
1.2.2.6                Mahasiswa dapat menjelaskan dengan tepat dan benar tentang komplikasi
1.2.2.7                Mahasiswa mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien dengan efistaksis.

1.3         METODE PENULISAN
1.3.1   METODE PENULISAN.
Didalam pembuatan makalah ini, penulis menggunakan metode deskripsi.
1.3.2   TEKHNIK PENULISAN.
1.3.2.1                METODE OBSERVASI
Yaitu bentuknya langsung yang diajukan pada narasumber terhadap permasalahan yang akan di bahas
1.3.2.2                METODE PERPUSTAKAAN
Yaitu diambil dari buku : Arif,Mansjoer, et al, 1999, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jilid 1, Media Aesculapius, Jakarta.. Balai Penerbit. FK. UI. 1998. Buku Ajar Penyakit THT. Gaya Baru. Jakarta. Doengoes, Marilyn, et al, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta. Yuni fajri comuniti blog. Dibuka pada tanggal 7 Desember 2010. Pada pukul 15.00 wib di http://kmbakp.blogspot.com/2010/04/asuhan-keperawatan epistaksis.html Irga. Koas Unhas blog. Dibuka pada tanggal 6 Desember 2010. Pada pukul 20.34 wib di http://www.irwanashari.com/2009/11/epistaksis.html



1.4         SISTEMATIKA PENULISAN
Adapun sistematika penulisan Makalah Asuhan Keperawatan ini terdiri dari 3 bab, yang mana dari perbab dan isi dalam bab tersebut diuraikan sebagai berikut:
BAB I    :   PENDAHULUAN
Bab yang memberikan gambaran awal dari Makalah Asuhan Keperawatan yang berisikan: latar belakang, tujuan, metode penulisan, sistematika penulisan
BAB II  :   TINJAUAN TEORITIS
Teori-teori tentang tugas keluarga dalam tahap perkembangan yang meliputi : Konsep Medis : Definisi, Anatomi dan fisiologi, Etiologi, fatofisiologi, klasifikasi, komplikasi, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan, Konsep Keperawatan : Pengkajian, Diagnosa , Intervensi.
BAB III :   PENUTUP
Berisikan kesimpulan dan saran















BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1         KONSEP MEDIS
2.1.1   DEFINISI
Epistaksis atau perdarahan hidung dilaporkan timbul pada 60% populasi umum. Puncak kejadian dari epistaksis didapatkan berupa dua puncak (bimodal) yaitu pada usia <10 >50 tahun.
Epistaksis yaitu perdarahan dari hidung yang dapat berupa perdarahan anterior dan perdarahan posterior.
Epistaksis adalah perdarahan dari hidung yang dapat terjadi akibat sebab lokal atau sebab umum (kelainan sistemik).
Epistaksis dibagi menjadi 2 yaitu anterior (depan) dan posterior (belakang). Kasus epistaksis anterior terutama berasal dari bagian depan hidung dengan asal perdarahan berasal dari pleksus kiesselbach. Epistaksis posterior umumnya berasal dari rongga hidung posterior melalui cabang a.sfenopalatina.
Epistaksis anterior menunjukkan gejala klinik yang jelas berupa perdarahan dari lubang hidung. Epistaksis posterior seringkali menunjukkan gejala yang tidak terlalu jelas seperti mual, muntah darah, batuk darah, anemia dan biasanya epistaksis posterior melibatkan pembuluh darah besar sehingga perdarahan lebih hebat.

2.1.2   ANATOMI DAN FISIOLOGI
Hidung terdiri dari hidung bagian luar atau piramid hidung dan rongga hidung. Piramid hidung terdiri dari :
·                pangkal hidung (bridge)
·                dorsum nasi (dorsum=punggung)
·                puncak hidung
·                ala nasi (alae=sayap)

clip_image0024.jpgear-nose-and-throat-diagram.jpg






Fungsi hidung adalah untuk :
1.             jalan napas
2.             alat pengatur kondisi udara (mengatur suhu dan kelembaban udara)
3.             penyaring udara
4.             sebagai indra penghidu (penciuman)
5.             untuk resonansi udara
6.             membantu proses bicara
7.             refleks nasal
Epistaksis dibagi menjadi 2 yaitu anterior (depan) dan posterior (belakang). Kasus epistaksis anterior terutama berasal dari bagian depan hidung dengan asal perdarahan berasal dari pleksus kiesselbach. Epistaksis posterior umumnya berasal dari rongga hidung posterior melalui cabang a.sfenopalatina.
Epistaksis anterior menunjukkan gejala klinik yang jelas berupa perdarahan dari lubang hidung. Epistaksis posterior seringkali menunjukkan gejala yang tidak terlalu jelas seperti mual, muntah darah, batuk darah, anemia dan biasanya epistaksis posterior melibatkan pembuluh darah besar sehingga perdarahan lebih hebat.
Epistaksis (mimisan) pada anak-anak umumnya berasal dari little’s area/pleksus kiesselbach yang berada pada dinding depan dari septum hidung.



2.1.3   ETIOLOGI
Beberapa penyebab epistaksis dapat digolongkan menjadi etiologi lokal dan sistemik sebagai berikut :
a.             Etiologi local
·                Trauma lokal misalnya setelah membuang ingus dengan keras, mengorek hidung, fraktur hidung atau trauma maksilofasia lainnya.
·                Tumor, baik tumor hidung maupun sinus yang jinak dan yang ganas. Tersering adalah tumor pembuluh darah seperti angiofibroma dengan ciri perdarahan yang hebat dan karsinoma nasofaring dengan ciri perdarahan berulang ringan bercampur lendir atau ingus.
·                Idiopatik yang merupakan 85% kasus epistaksis, biasanya ringan dan berulang pada anak dan remaja.
Ketiga diatas ini merupakan penyebab lokal tersering.
b.             Eiologi lainnya yaitu
·                Iritasi gas atau zat kimia yang merangsang ataupun udara panas pada mukosa hidung;
·                Keadaan lingkungan yang sangat dingin
·                Tinggal di daerah yang tinggi atau perubahan tekanan atmosfir yang tiba tiba
·                Iatrogenik akibat operasi
·                Pemakaian semprot hidung steroid jangka lama
·                Benda asing atau rinolit dengan keluhan epistaksi ringan unilateral clsertai Ingus berbau busuk.
c.             Etiologi sistemik
·                Hipertensi dan penyakit kardiovaskuler lainnya seperti arteriosklerosis. Hipertensi yan disertai atau anpa arteriosklerosis rnerupakan penyebab epistaksis tersering pada usia 60-70 lahun, perdarahan biasanya hebat berulang dan mempunyai prognosis yang kurang baik,
·                Kelainan perdarahan misalnya leukemia, hemofilia, trombositopenia dll.
·                Infeksi, misalnya demam berdarah disertai trornbositopenia, morbili, demam tifoid dll.
d.            Termasuk etiologi sistemik lain
·                Lebin jarang terjadi adalah gangguan keseimbangan hormon misalnya pada kehamilan, menarke dan menopause
·                Kelainan kongenital misalnya hereditary hemorrhagic telangieclasis atau penyakit rendj-osler-weber;
·                Peninggian tekanan vena seperti pada ernfisema, bronkitis, pertusis, pneumonia, tumor leher dan penyakit jantung
·                Pada pasien dengan pengobatan antikoagjlansia.

2.1.4   PATOFISIOLOGI
Rongga hidung kita kaya dengan pembuluh darah. Pada rongga bagian depan, tepatnya pada sekat yang membagi rongga hidung kita menjadi dua, terdapat anyaman pembuluh darah yang disebut pleksus Kiesselbach. Pada rongga bagian belakang juga terdapat banyak cabang-cabang dari pembuluh darah yang cukup besar antara lain dari arteri sphenopalatina.
Rongga hidung mendapat aliran darah dari cabang arteri maksilaris (maksila=rahang atas) interna yaitu arteri palatina (palatina=langit-langit) mayor dan arteri sfenopalatina. Bagian depan hidung mendapat perdarahan dari arteri fasialis (fasial=muka). Bagian depan septum terdapat anastomosis (gabungan) dari cabang-cabang arteri sfenopalatina, arteri etmoid anterior, arteri labialis superior dan arteri palatina mayor yang disebut sebagai pleksus kiesselbach (little’s area).
Jika pembuluh darah tersebut luka atau rusak, darah akan mengalir keluar melalui dua jalan, yaitu lewat depan melalui lubang hidung, dan lewat belakang masuk ke tenggorokan.
Epistaksis dibagi menjadi 2 yaitu anterior (depan) dan posterior (belakang). Kasus epistaksis anterior terutama berasal dari bagian depan hidung dengan asal perdarahan berasal dari pleksus kiesselbach. Epistaksis posterior umumnya berasal dari rongga hidung posterior melalui cabang a.sfenopalatina.
Epistaksis anterior menunjukkan gejala klinik yang jelas berupa perdarahan dari lubang hidung. Epistaksis posterior seringkali menunjukkan gejala yang tidak terlalu jelas seperti mual, muntah darah, batuk darah, anemia dan biasanya epistaksis posterior melibatkan pembuluh darah besar sehingga perdarahan lebih hebat jarang berhenti spontan

2.1.5   KLASIFIKASI
a.             Epistaksis ringan biasanya berasal dari bagian anterior hidung, umumnya mudah diatasi dan dapat berhenti sendiri.
b.             Epistaksis berat berasal dari bagian posterior hidung yang dapat menimbulkan syok dan anemia serta dapat menyebabkan terjadinya iskemia serebri, insufisiensi koroner dan infark miokard yang kalau tidak cepat ditolong dapat berakhir dengan kematian.

2.1.6   KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat timbul :
·               Sinusitis
·               Septal hematom (bekuan darah pada sekat hidung)
·               Deformitas (kelainan bentuk) hidung
·               Aspirasi (masuknya cairan ke saluran napas bawah)
·               Kerusakan jaringan hidung
·               Infeksi

2.1.7   PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang bertujuan untuk menilai keadaan umum penderita, sehingga pengobatan dapat cepat dan untuk mencari etiologi.
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah pemeriksaan darah tepi lengkap, fungsi hemostatis, uji faal hati dan faal ginjal.
Jika diperlukan pemeriksaan radiologik hidung, sinus paranasal dan nasofaring dapat dilakukan setelah keadaan akut dapat diatasi.



2.1.8   PENATALAKSANAAN
Prinsip dari penatalaksanaan epistaksis yang pertama adalah menjaga ABC
·               A       Airway :
Pastikan jalan napas tidak tersumbat/bebas, posisikan duduk menunduk
·               B     Breathing:
Pastikan proses bernapas dapat berlangsung, batukkan atau keluarkan darah yang   mengalir ke belakang tenggorokan
·               C      Circulation
Pastikan proses perdarahan tidak mengganggu sirkulasi darah tubuh, pastikan pasang jalur infus intravena (infus) apabila terdapat gangguan sirkulasi posisikan pasien dengan duduk menunduk untuk mencegah darah menumpuk di daerah faring posterior sehingga mencegah penyumbatan jalan napas
1.             Hentikan perdarahan
·                Tekan pada bagian depan hidung selama 10 menit
·                Tekan hidung antara ibu jari dan jari telunjuk
·                Jika perdarahan berhenti tetap tenang dan coba cari tahu apa faktor pencetus epistaksis dan hindari
2.             Jika perdarahan berlanjut :
·                Dapat akibat penekanan yang kurang kuat
·                Bawa ke fasilitas yang lengkap dimana dapat diidentifikasi lokasi perdarahan
·                Dapat diberikan vasokonstriktor (adrenalin 1:10.000, oxymetazolin-semprot hidung) ke daerah perdarahan
·                Apabila masih belum teratasi dapat dilakukan kauterisasi elektrik/kimia (perak nitrat) atau pemasangan tampon hidung
Pemasangan tampon hidung anterior dilakukan dapat menggunakan kapas yang ditetesi oleh obat-obatan vasokonstriktor (adrenalin), anastesia (lidocain atau pantocain 2%) dan salap antibiotik/vaselin atau menggunakan kassa yang ditetesi dengan obat vasokonstriktor dan anastesia dan salap antibiotik/vaselin.
Apabila terdapat keadaan dimana terjadi tampat perdarahan yang multipel, perembesan darah yang luas/difus maka diperlukan pemeriksaan profil darah tepi lengkap, protrombin time (PT), activated partial thromboplastin time (aPTT), golongan darah dan crossmatching

2.2         KONSEP KEPERAWATAN
2.2.1   PENGKAJIAN
1.             Biodata : Nama ,umur, sex, alamat, suku, bangsa, pendidikan, pekerjaan
2.             Riwayat Penyakit sekarang :
3.             Keluhan utama : biasanya penderita mengeluh sulit bernafas, tenggorokan.
4.             Riwayat penyakit dahulu :
·                Pasien pernah menderita penyakit akut dan perdarahan hidung atau trauma
·                Pernah mempunyai riwayat penyakit THT
·                Pernah menedrita sakit gigi geraham
5.             Riwayat keluarga : Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang lalu yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang.
6.               Riwayat spikososial
·                Intrapersonal : perasaan yang dirasakan klien (cemas/sedih).
·                Interpersonal : hubungan dengan orang lain.
7.             Pola fungsi kesehatan
a.              Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
·                Untuk mengurangi flu biasanya klien mengkonsumsi obat tanpa memperhatikan efek samping
b.             Pola nutrisi dan metabolisme :
·                Biasanya nafsu makan klien berkurang karena terjadi gangguan pada hidung
c.              Pola istirahat dan tidur
·                Selama inditasi klien merasa tidak dapat istirahat karena klien sering pilek
d.             Pola Persepsi dan konsep diri
·                Klien sering pilek terus menerus dan berbau menyebabkan konsep diri menurun
e.                   Pola sensorik
·                Daya penciuman klien terganggu karena hidung buntu akibat pilek terus menerus (baik purulen , serous, mukopurulen).
8.             Pemeriksaan fisik
a.              Status kesehatan umum : keadaan umum , tanda vital, kesadaran.
b.             Pemeriksaan fisik data focus hidung : rinuskopi (mukosa merah dan bengkak).
9.             Data subyektif :
·                Mengeluh badan lemas
10.           Data Obyektif
·                Perdarahan pada hidung/mengucur banyak
·                Gelisah
·                Penurunan tekanan darah
·                Peningkatan denyut nadi
·                AnemiA
2.2.2   DIAGNOSA
Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul
1.             Bersihan Jalan Nafas tidak efektif
2.             Cemas
3.             Nyeri Akut


2.2.3   INTERVENSI  KEPERAWATAN
No.
DIAGNOSA
TUJUAN & KRITERIA HASIL
INTERVENSI
RASIONAL
1.
Bersihan Jalan Nafas tidak efektif






















Tujuan :
·         Bersihan jalan nafas menjadi efektif
KH :
·         Frekuensi nafas normal, tidak ada suara nafas tambahan, tidak menggunakan otot pernafasan tambahan, tidak terjadi dispnoe dan sianosis
Mandiri :
·      Kaji bunyi atau kedalaman pernapasan dan gerakan dada.


·      Catat kemampuan mengeluarkan mukosa/batuk efektif


·      Berikan posisi fowler atau semi fowler tinggi



·      Bersihkan sekret dari mulut dan trakea

·      Pertahankan masuknya cairan sedikitnya sebanyak 250 ml/hari kecuali kontraindikasi

Kolaborasi :
·         Berikan obat sesuai dengan indikasi mukolitik, ekspektoran, bronkodilator


·         Penurunan bunyi nafas dapat menyebabkan atelektasis, ronchi dan wheezing menunjukkan akumulasi sekret
·         Sputum berdarah kental atau cerah dapat diakibatkan oleh kerusakan paru atau luka bronchial
·         Posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya pernafasan

·         Mencegah obstruksi/aspirasi


·         Membantu pengenceran secret.




·         Mukolitik untuk menurunkan batuk, ekspektoran untuk membantu memobilisasi sekret, bronkodilator menurunkan spasme bronkus dan analgetik diberikan untuk menurunkan ketidaknyamanan
2.
Cemas
Tujuan :
·         Cemas klien berkurang/hilang
KH :
·         Klien akan menggambarkan tingkat kecemasan dan pola kopingnya
·         Klien mengetahui dan mengerti tentang penyakit yang dideritanya serta pengobatannya.
·         Kaji tingkat kecemasan klien


·         Berikan kenyamanan dan ketentraman pada klien :
a.       Temani klien
b.      Perlihatkan rasa empati( datang dengan menyentuh klien )

·         Berikan penjelasan pada klien tentang penyakit yang dideritanya perlahan, tenang seta gunakan kalimat yang jelas, singkat mudah dimengerti

·         Singkirkan stimulasi yang berlebihan misalnya :
a.         Tempatkan klien diruangan yang lebih tenang
b.         Batasi kontak dengan orang lain /klien lain yang kemungkinan mengalami kecemasan

·         Observasi tanda-tanda vital.


·         Bila perlu , kolaborasi dengan tim medis



·         Menentukan tindakan selanjutnya

·         Memudahkan penerimaan klien terhadap informasi yang diberikan




·         Meningkatkan pemahaman klien tentang penyakit dan terapi untuk penyakit tersebut sehingga klien lebih kooperatif



·         Dengan menghilangkan stimulus yang mencemaskan akan meningkatkan ketenangan klien.






·         Mengetahui perkembangan klien secara dini.

·         Obat dapat menurunkan tingkat kecemasan klien

3.
Nyeri Akut
Tujuan :
·         nyeri berkurang atau hilang
KH :
·         Klien mengungkapakan nyeri yang dirasakan berkurang atau hilang
·         Klien tidak menyeringai kesakitan
Mandiri :
·         Kaji tingkat nyeri klien



·         Jelaskan sebab dan akibat nyeri pada klien serta keluarganya




·         Ajarkan tehnik relaksasi dan distraksi




·         Observasi tanda tanda vital dan keluhan klien



Kolaborasi dengan tim medis:
·           Terapi konservatif :
a.    obat Acetaminopen; Aspirin, dekongestan hidung


·         Mengetahui tingkat nyeri klien dalam menentukan tindakan selanjutnya

·         Dengan sebab dan akibat nyeri diharapkan klien berpartisipasi dalam perawatan untuk mengurangi nyeri


·         Klien mengetahui tehnik distraksi dan relaksasi sehinggga dapat mempraktekkannya bila mengalami nyeri


·         Mengetahui keadaan umum dan perkembangan kondisi klien.




·         Menghilangkan /mengurangi keluhan nyeri klien





BAB III
PENUTUP
3.1         KESIMPULAN
Epistaksis (perdarahan dari hidung) bisa ringan sampai berat yang berakibat fatal. Perdarahan bisa berhenti sendiri sampai harus segera ditolong. Pada epistaksis berat harus ditolong di rumah sakit oleh dokter. Tindakan yang dilakukan pada epistaksis adalah dengan:
a)             Memencet hidung
b)             Memasangan tampon anterior dan posterior
c)             Kauterisasi
d)            Ligasi (pengikatan pembuluh darah)

3.2         SARAN
Berdasarkan hasil diskusi kelompok tentang Asuhan Keperawatan Kritis dengan Efistaksis, maka penulis memberikan beberapa saran yang kiranya berguna bagi kita semua untuk perbaikan di masa yang akan datang. Adapun saran yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
1.             Rumah Sakit
Rumah sakit sebagai pusat pelayanan kesehatan masyarakat sebaiknya bisa menciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang untuk perawatan klien dan juga anggota tim di rumah sakit juga bisa berkolaborasi dengan baik untuk pengobatan pada klien.
2.             Untuk Pendidikan
Sebelum turun dalam pelaksanaan pendidikan merupakan sumber pertama mahasiswa, sehingga dapat membekali mahasiswa dengan ilmu pengetahuan yang telah di ajarkan.
3.             Untuk Perawat
a.    Saat melaksanakan pengkajian pada klien Efistaksis untuk mempertahankan keluhan yang dirasakan oleh klien, dan yang paling penting adalah terbinanya hubungan saling percaya antara perawat dengan klien beserta keluarga klien.
b.    Dalam menegakkan diagnose keperawatan, perawat hendaknya memperhatikan kebutuhan klien sesuai dengan prioritas masalah yang dirasakan oleh klien.
c.    Sebelum membuat perencanaan hendaknya perawat memperhatikan aspek perawatan yaitu : Bio-Psiko-Sosial dan Spiritual.
d.   Dalam melaksanakan tindakan keperawatan diperlukan kerja sama dan tenaga kesehatan lainnya untuk menunjang pelaksanaan keperawatan yang menyeluruh terhadap klien.





















DAFTAR PUSTAKA.
 Arif,Mansjoer, et al, 1999, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jilid 1, Media Aesculapius, Jakarta..
Balai Penerbit. FK. UI. 1998. Buku Ajar Penyakit THT. Gaya Baru. Jakarta
Doengoes, Marilyn, et al, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta
Yuni fajri comuniti blog. Dibuka pada tanggal 7 Desember 2010. Pada pukul 15.00 wib di http://kmbakp.blogspot.com/2010/04/asuhan-keperawatan-epistaksis.html
Irga. Koas Unhas blog. Dibuka pada tanggal 6 Desember 2010. Pada pukul 20.34 wib di http://www.irwanashari.com/2009/11/epistaksis.html







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar