Jumat, 11 November 2011

obstruksi laring

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Laring memiliki tiga fungsi penting yakni sebagai proteksi jalan nafas, pengaturan pernafasan dan menghasilkan suara. Kerusakan pada laring akibat trauma dapat sangat parah. Untungnya, trauma laring ini sangatlah jarang ditemukan dan hanya ditemukan pada sebagian kecil dari keseluruhan kejadian trauma. Penatalaksanaan yang terstandarisasi telah dikembangkan untuk membantu dalam mengevaluasi dan mengidentifikasi kerusakan yang membutuhkan intervensi bedah. Diagnosis dan perawatan dini sangat penting untuk mencegah kerusakan lebih lanjut termasuk kematian.
Trauma pada laring dapat berupa trauma tumpul atau trauma tajam akibat luka sayat, luka tusuk dan luka tembak. Trauma tumpul pada daerah leher selain dapat merusak struktur laring juga menyebabkan cedera pada jaringan lunak seperti otot, saraf, pembuluh darah, dan seterusnya. Hal ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari seperti leher terpukul oleh tangkai pompa air, leher membentur dash board dalam kecelakaan mobil, tertendang atau terpukul waktu berolahraga bela diri, berkelahi, dicekik atau usaha bunuh diri dengan menggantung diri (strangulasi) atau seorang pengendara motor terjerat tali yang terentang di jalan (clothesline injury).
Fraktur laring dapat terjadi pada trauma yang mengenai daerah leher dan seringkali menimbulkan obstruksi jalan nafas yang membutuhkan perawatan seumur hidup. Oleh karena itu, pasien-pasien yang diduga mengalami fraktur laring harus diperlakukan sebagai pasien gawat darurat.
Benda asing jalan napas merupakan masalah klinis yang memiliki tantangan tersendiri, meskipun belakangan ini telah terjadi kemajuan besar dalam teknik anestesi dan instrumentasi, ekstraksi benda asing jalan napas bukanlah merupakan suatu prosedur yang mudah dan tetap memerlukan keterampilan serta pengalaman dari dokter yangmelakukannya.
Benda asing dalam suatu organ dapat terbagi atas benda asing eksogen (dari luar tubuh) dan benda asing endogen (dari dalam tubuh) yang dalam keadaan normal benda tersebut tidak ada. Secara statistik, persentase aspirasi benda asing berdasarkan letaknya masing-masing adalah; hipofaring 5%, laring/trakea 12%, dan bronkus sebanyak 83%. Kebanyakan kasus aspirasi benda asing terjadi pada anak usia <15 tahun; sekitar 75% aspirasi benda asing terjadi pada anak usia 1–3 tahun. Rasio laki-laki banding wanita adalah 1,4 : 1.3-5
Pada benda asing laring, dapat dipergunakan kateter insuflasi yang dipasang melalui hidung dengan bagian ujung di dalam hipofaring untuk mempertahankan keadaan anestesia dan oksigenasi. Ujung laringoskop kemudian ditempatkan pada vallecula untuk melihat seluruh struktur laring dan untuk melihat benda asing di dalam laring, sehingga dapat dikeluarkan dengan menggunakan forceps yang sesuai. Setelah tindakan ekstraksi benda asing, laring dievaluasi kembali untuk mencari kemungkinan adanya benda asing lainnya
Trauma laring jarang ditemukan, hanya terdapat 1 dari 137.000 kunjungan pasien, 1 dari 14000-42000 kasus gawat darurat dan kurang dari 1% dari keseluruhan kejadian trauma tumpul. Jarangnya trauma ini ditemukan kemungkinan berkaitan dengan struktur laring yang terlindungi oleh organ di sekitarnya. Misalnya oleh spina servikalis di posterior dan mandibula yang tergantung di superior dan anteriornya serta oleh mekanisme refleks fleksi dari leher. Proteksi laring ini lebih besar lagi pada kanak-kanak dimana laringnya lebih superior dan sifatnya yang masih elastis. Sebagai tambahan, berkurangnya trauma laring pada pengendara kendaraan bermotor oleh karena penggunaan sabuk pengaman dan pengaman berkemudi lainnya.Kurang dari 50 % dari keseluruhan trauma laring diperkirakan adalah hasil dari trauma krikoid.
Wanita cenderung memiliki leher yang lebih panjang dan jenjang, membuat mereka lebih rawan untuk terkena trauma laring., khususnya trauma supraglottik. Namun secara keseluruhan pria lebih sering ditemukan mendapatkan trauma ini (77% vs 23 %), Hal ini dikarenakan aktivitas yang digeluti kaum pria jauh lebih berbahaya seperti olahraga ekstrim dan perkelahian.
Pada kelompok umur yang lebih tua, trauma laring sering berkaitan dengan proses penuaan seperti telah terjadinya kalsifikasi pada tulang-tulang mereka. Cedera yang paling sering terkait dengan trauma laring adalah cedera intrakrania (13%), cedera leher terbuka (9%), fraktur tulang servikal (8%) dan cedera esofagus (3%).



B. Metode Penulisan
Metode Penulisan : penulis mengumpulkan data,terutama berdasarkan buku-buku yang ada diperpustakaan,materi perkuliahan yang sesuai dengan materi tersebut.
C. Tujuan Umum
           Mahasiswa mampu memahami tentang keperawatan kritis dengan Obstruksi Laring
D. Tujuan Khusus
           Mahasiswa mampu mengetahui pengertian Benda Asing Di Laring dan Edema Laring.
           Mahasiswa mampu menyebutkan penyebab Benda Asing Di Laring dan Edema Laring.
           Mahasiswa mampu menerangkan perjalanan penyakit Benda Asing Di Laring dan Edema Laring.
           Mahasiswa mampu memahami penatalaksanaan pada pasien dengan Benda Asing Di Laring dan Edema Laring.
           Mahasiswa mampu menangani pasien Kritis dengan Benda Asing Di Laring dan Edema Laring.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Anatomi Fisiologi Pernafasan
         I.     Pengertian
Pernapasan (respirasi) adalah peristiwa menghirup udara daru luar yang mengandung oksigen (O2) ke dalam tubuh serta menghembuskan udara yang banyak mengandung CO2 (karbondioksida) sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh.
      II.     Guna Pernapasan
1.      Mengambil O2 (oksigen) yang kemudian dibawa oleh darah ke seluruh tubuh (sel-selnya) untuk mengadakan pembakaran.
2.      Mengeluarkan CO2 (karbondioksida) yang terjadi sebagai sisa dari pembakaran, kemudian dibawa oleh darah ke paru-paru untuk dibuang (karena tidak berguna lagi oleh tubuh).
3.      Menghangatkan dan melembabkan udara
   III.     Organ-Organ Pernapasan Bagian Atas
a. Hidung = Naso = Nasal
Merupakan saluran udara yang pertama, mempunyai 2 lubang (kavum nasi) dipisahkan oleh sekat hidung (septum nasi).
Bagian-bagian dari hidung adalah:
1) Bagian luar, terdiri dari kulit.
2) Lapisan tengah, terdiri dari otot-otot dan tulang rawan.
3) Lapisan dalam, terdiri selaput lender yang disebut karang hidung, yaitu :
§ Konka nasalis inferior (karang hidung bagian bawah)
§ Konka nasalis media (karang hidung bagian tengah)
§ Konka nasalis superior (karang hidung bagian bawah)

Fungsi hidung yaitu:
a.       Bekerja sebagai saluran udara pernapasan.
b.      Sebagai penyaring udara pernapasan yang dilakukan oleh bulu-bulu hidung.
c.       Dapat menghangatkan udara pernapasan oleh mukosa.
d.      Membunuh kuman-kuman yang masuk bersama-sama udara pernapasan oleh leukosit yang terdapat dalam selaput lender (mukosa) atau hidung.
b. Sinus Paranasal
Sinus paranasal ialah rongga-rongga yang terdapat di sekitar hidung, terdapat 2 kelompok sinus paranasal, yaitu :
1.      Kelompok anterior, yang terdiri dari sinus maksila, sinus etmoid anterior dan sinus frontal. Semuanya bermuara di meatus medius hidung.
*      Sinus Maksila
Sinus maksila ini merupakan sinus paranasal terbesar, terdapat kiri dan kanan hidung, pada os maksila. Dasarnya terbentuk oleh prosesus alveolar dan prosesus palatine os maksila.
*      Sinus Frontal
Sinus frontal terletak di dalam tulang frontal, sinus ini dibagian posterior, berbatas dengan kosa serebri media dan didasarnya dekat dengan mata. Sinus frontal belum ada pada anak yang baru lahir, perkembangannya baru setelah umur 8 tahun.
*      Sinus Etmoid
Berdasarkan pada letaknya, sinus etmoid dibagi atas kelompok anterior dan kelompok posterior. Sinus etmoid berada dalam tulang etmoid dan tidak merupakan suatu rongga, melainkan banyak rongga kecil, yaitu : sel. Kelompok anterior bermuara ke meatus medius, sedangkan kelompok posterior bermuara ke meatus superior hidung. Sinus etmoid sudah ada pada waktu bayi baru lahir
2.      Kelompok posterior, yang terdiri dari sinus etmoid posterior, dan sinus sphenoid. Bermuara di meatus superior hidung.
*      Sinus Sfenoid
Sinus sfenoid terletak di dalam tulang sfenoid, atapnya berhubungan dengan kosa serebri media dan hipofisa. Sedangkan dasarnya ialah atap nasofaring.
Sinus sfenoid belum terbentuk pada bayi yang baru lahir, mulai berkembang pada anak yang berumur 8 – 10 tahun. Sinus sfenoid mengalirkan cairannya ke meatus superior hidung.
Fungsi Sinus Paranasal
Fungsi sinus paranasal belum diketahui, kemungkinan :
1.      Menolong pelembaban udara pernapasan.
2.      Mengurangi berat tulang tengkorak.
3.      Bekerja sebagai resonator suara
4.      Mencegah luka pukul langsung ke rongga tengkorak.
5.      Bekerja sebagai organ penciuman.
c. Tekak = Faring
Merupakan tempat persimpangan antara jalan pernapasan dan jalan makanan. Terdapat di bawah dasar tengkorak, di belakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher.
Rongga tekak dibagi 3 bagian, yaitu :
1) Bagian sebelah atas yang sama tingginya dengan koana yang disebut nasofaring.
2) Bagian tengah yang sama tingginya dengan istmusfausium, disebut orofaring.
3) Bagian bawah sekali dinamakan laringofaring.
d. Pangkal Tenggorokan (Laring)
Merupakan saluran udara dan bertindak sebagai pembentukan suara, terletak di depan faring sampai ketinggian vertebral servikalis dan masuk ke dalam trakea di bawahnya.
Laring terdiri dari 5 tulang rawan, antara lain :
1.      Kartilago tiroid (1 buah), depan jakun (Adam’s aple) sangat jelas terlihat pada pria.
2.      Kartilago ariteanoid ( 2 buah) yang berbentuk beker.
3.      Kartilago krikoid ( 1 buah) yang berbentuk cincin.
4.      Kartilago epigiotis ( 1 buah).


B. Konsep Dasar Obstruksi Jalan Nafas
1.    Pengertian
Obstruksi jalan napas atas adalah gangguan yang menimbulkan penyumbatan pada saluran pernapasan bagian atas. Beberapa gangguan yang merupakan obstruksi pada jalan napas atas, diantaranya adalah :
a. Obstruksi Nasal
Merupakan tersumbatnya perjalanan udara melalui nostril oleh deviasi septum nasi, hipertrofi tulang torbinat / tekanan polip yang dapat mengakibatkan episode nasofaringitis infeksi. (Arif Mansjoer, dkk, 1999)
b. Obstruksi Laring
Adalah adanya penyumbatan pada ruang sempit pita suara yang berupa pembengkakan membran mukosa laring, dapat menutup jalan dengan rapat mengarah pada astiksia. (Arif Mansjoer, dkk, 1999)
*      Sumbatan laring biasanya disebabkan oleh:
Ø  Radang akut dan radang kronis.
Ø  Benda asing
Ø  Trauma akibat kecelakaan, perkelahian ,percobaan bunuh diri dengan senjata tajam
Ø  Trauma akibat tindakan medik
Ø  Tumor laring, baik berupa tumor jinak atau pun tumor ganas.
Ø  Kelumpuhan nervus rekurens bilateral.
*      Gejala dan tanda sumbatan laring ialah:
·         Suara serak (disfonia) sampai afoni
·         Sesak nafas (dispnea)
·         Stridor (nafas berbunyi) yang terdengar pada waktu inspirasi
·         Cekungan yang terdapat pada waktu inspirasi di suprasternal, epigastrium,supraklavikula dan interkostal.Cekungan ini terjadi sebagai upaya dari otot-otot pernafasan untuk mendapatkan oksigen yang adekuat.
·         Gelisah karena haus udara. (air hunger)
·         Warna muka pucat dan terakhir menjadi sianosis karena hipoksia.
*      Jackson membagi sumbatan laring yang progressif dalam 4 stadium dengan tanda dan gejala.
a.       Stadium 1.
·         Cekungan tampak pada waktu inspirasi di suprasternal
·         Stridor pada waktu inspirasi
·         Pasien masih tampak tenang
b.      Stadium 2
Ø  Cekungan pada waktu inspirasi didaerah suprasternal maikn dalam
Ø  Cekungan di daerah epigastrium
Ø  Stridor terdengar pada waktu inspirasi
Ø  Pasien mulai tampak gelisah.
c.       Stadium 3
·         Cekungan selain di suprasternal, epigastrium juga terdapat di infraklvikula dan disela-sela iga.
·         Stridor terdengar pada waktu inspirasi dan ekspirasi
·         Pasien sangat gelisah dan dispnea.
d.      Stadium 4
ü  Cekungan – cekungan diatas bertambah jelas,pasien sangat gelisah, tampak sangat ketakutan dan sianosis.
ü  Pasien dapat kehabisan tenaga,pusat perafasan paralitik karena hiperkapnea.
ü  Pasien lemah dan tertidur,akhirnya mninggal karena asfiksia.
C. Edema Laring
*        Definisi Edema Laring
·           Edema laring adalah pembengkakan yang dapat diamati dari akumulasi cairan yang terdapat di daerah laring. Pembengkakan adalah akibat dari akumulasi cairan yang berlebihan dibawah kulit dalam ruang-ruang didalam jaringan-jaringan.
·           Edema merupakan manifestasi umum kelebihan volume cairan yang membutuhkan perhatian khusus.Pembentukan edema, sebagai akibat dari perluasan cairan dalam kompartemen cairan intertisial, dapat terlokalisir, contohnya pada pergelangan kaki;dapat berhubungan dengan rematoid arthritis; atau dapat menyeluruh, seperti pada gagal jantung atau ginjal, edema menyeluruh yang berat disebut anasarka(Brunner and Sudarth, 2001).

*        Etiologi Edema Laring
·         Penyebab lain yang mungkin edema laring meliputi peningkatan tekanan kapiler akibat sindrom vena kava superior, ligasi vena jugularis internal, kegagalan osmotik menurunkan plasma disebabkan oleh gagal ginjal, gangguan aliran limfatik, dan peningkatan permeabilitas kapiler terhadap protein. (From Paparella et al., Otolaryngology, 3d ed, p2253) (Dari Paparella dkk., THT, 3d ed, p2253).

*        Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis dari edema laring antara lain:
o  Kesulitan untuk bernafas, bahkan bisa menyebabkan tidak bisa bernafas.
o  Takikardia
o  Peningkatan tekanan darah, tekanan nadi, dan tekanan vena sentral
o  Peningkatan berat badan
o  Nafas pendek dan Mengi
o  Retensi Cairan
*        Pemeriksaan Diagnostik
Ø  Laboratorium: urinalisa, urem, creatinin, darah lengkap, elektrolit, protein (albumin), analisa gas darah, gula darah
Ø  Radiology: foto laring
Ø  Biopsy jaringan di sekitar laring

*        Penatalaksanaan konservatif
v Meliputi pengaturan diet, cairan dan garam, memperbaiki ketidakseimbangan elektrolit dan asam basa, mengendalikan hiperensi, penanggulangan asidosis, pengobatan neuropati, deteksi dan mengatasi komplikasi.
D. Benda Asing di Saluran Nafas
Benda asing jalan nafas adalah benda asing yang secara tidak sengaja terhirup masuk ke jalan nafas ( laring, trakea dan bronkus ).Sering terjadi pada anak-anak dibawah 6 tahun yang pertumbuhan gerahamnya belum terbentuk sempuma. Jenis benda asing: kacang, kecik, sempritan mainan dll. Masuknya benda asing ke dalam laring, trakea/bronkus terjadi ketika benda berada di dalam mulut penderita, penderita menghirup nafas ( inspirasi ) dengan mulut terbuka (waktu tertawa atau menangis ), sehingga benda tersebut terhisap masuk ke dalam laring atau trakea / bronkus.
*        Diagnosis
1.    Anamnesis:
ü  Pada awalnya timbul batuk mendadak, hebat, bertubi-tubi dan dapat sampai biru (sianosis).Kemudian diikuti dengan fase tenang, tidak batuk, sebab benda asing berhenti pada salah satu cabang bronkus. Bila "lepas", dapat timbul batuk -batuk lagi.
ü  Sesak nafas terjadi bila ada penyumbatan pada laring atau trakea.
ü  Anamnesis yang cermat,sangat penting dalam menegakkan diagnosis.
2.    Pemeriksaan fisik:
·           Kadang-kadang tidak dapat diternukan gejala yang jelas.
·           Bila ada penyumbatan jalan napas atas, tampak gelisah, sesak dan stridor inspirasi
·           Retraksi supraklavikuler, interkostal, epigastrial, supra steroal biru (sianosis)
·           Bila benda asing berhenti pada salah satu cabang bronkus:
o        Gerak nafas satu sisi berkurang
o        Suara nafas satu sisi berkurang
o        Pada fase tenang, mungkin gejala tersebut di atas tidak ada.
3.      Pemeriksaan tambahan:
X-foto toraks, hanya dikerjakan pada kasus-kasus tertentu, karena bila masih baru dan bendanya non radio opaqe, sering tidak tampak kelainan.
*      Diagnosis banding
1.   Asma bronkial: didapatkan stridor ekspiratoir.
2.   Laringitis akut.
3.   Trakeitis
4.   Bronkitis
5.   Pneumoni
*        Penyulit
·      Penyumbatan total laring/trakea ------ meninggal
·      Bronkitis
·      Pneumoni
·      Emfisema, terjadi bila timbul "check valve mechanism", di mana udara dapat masuk tetapi tak dapat keluar.
·      Atelektasis, terjadi bila timbul penyumbatan total pada salah satu cabang bronkus.
*      Terapi
·         Ekstraksi benda asing melalui bronkoskopi
·         Bila sesak dapat dilakukan trakeotomi.
·         Bila penderita apatis dan tidak tersedia peralatan tersebut, dapat dilakukan "Heimlich manouvre".

*      Cara-cara pengiriman penderita:
·         Duduk, miring ke sisi obstruksi ( anak dipangku ibunya ).
·         Jangan banyak bergerak atau menangis, sebab benda asing dapat cepat dibatukkan dan mungkin dapat terjepit pada rima glotis sehingga menimbulkan penyumbatan jalan nafas yang fatal
·         Diberikan oksigen.
·         Sebaiknya disertai paramedis yang dapat melakukan'Heimlich

*      Penanggulangan Sumbatan laring
Dalam penanggulangan sumbatan laring pada prinsipnya diusahakan supaya jalan nafas lancar kembali . Tindakan konservatif dengan pemberian anti inflamai, anti alergi,antibiotika, serta pemberian oksigen intermitten dilakukan pada sumbatan laring stadium 1 yang disebabkan peradangan.
Tindakan operatif atau resusitasi untuk membebaskan saluran nafas ini dapat dengan cara memasukkan pipa endotrakea melalui mulut (intubasi orotrakea) atau melalui hidung (intubasi nasotrakea), membuat trakeostomi atau melakukan krikotirotomi.
Intubasi endotrakea dan trakeostomi dilakukan pada pasien dengan sumbatan laring stadium 2 dan 3, sedangkan krikotirotomi dlakukan pada sumbatan laring stadium 4.
Tindakan operatif atau resusitasi dapat dilakukan berdasarkan analisa gas darah (pemeriksaan astrup). Bila fasilias tersedia, maka intubasi endotrakea merupakan pilihan pertama, sedangkan jika ruangan perawatan intensif tidak tersedia, sebaiknya dilakukan trakeostomi.
Indikasi intubasi endotrake adalah :
1.      Untuk mengatasi sumbatan saluran nafas bagian atas
2.      Membantu ventilasi
3.      Memudahkan mengisap sekret dari traktus trakeo-bronkial
4.      Mencegah aspirasi sekret yang ada di rongga mulut atau yang berasal dari lambung.
Secara umum dapat dikatakan bahwa intubasi endotrakea jangan melebihi 6 hari dan untuk selanjutnya sebaiknya dilakukan trakeostomi. Komplikasi yang dapat timbul adalah stenosis laring atau trakea.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pernapasan (respirasi) adalah peristiwa menghirup udara daru luar yang mengandung oksigen (O2) ke dalam tubuh serta menghembuskan udara yang banyak mengandung CO2 (karbondioksida) sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh.
Obstruksi jalan napas atas adalah gangguan yang menimbulkan penyumbatan pada saluran pernapasan bagian atas.
Benda asing jalan nafas adalah benda asing yang secara tidak sengaja terhirup masuk ke jalan nafas ( laring, trakea dan bronkus ).Sering terjadi pada anak-anak dibawah 6 tahun yang pertumbuhan gerahamnya belum terbentuk sempuma. Jenis benda asing: kacang, kecik, sempritan mainan dll. Masuknya benda asing ke dalam laring, trakea/bronkus terjadi ketika benda berada di dalam mulut penderita, penderita menghirup nafas ( inspirasi ) dengan mulut terbuka (waktu tertawa atau menangis ), sehingga benda tersebut terhisap masuk ke dalam laring atau trakea / bronkus.
*      Sumbatan laring biasanya disebabkan oleh:
Ø  Radang akut dan radang kronis.
Ø  Benda asing
Ø  Trauma akibat kecelakaan, perkelahian ,percobaan bunuh diri dengan senjata tajam
Ø  Trauma akibat tindakan medik
Ø  Tumor laring, baik berupa tumor jinak atau pun tumor ganas.
Ø  Kelumpuhan nervus rekurens bilateral.
B. Penutup
Diharapkan mahasiswa benar-benar mampu memahami opstruksi laring : edema laring dan benda asing sehingga dapat mengetahui apa yang dimaksut dengan opstruksi laring : edema laring dan benda asing.
Untuk institusi pendidikan hendaknya lebih melengkapi literatur yang berkaitan dengan opstruksi laring : edema laring dan benda asing.
DAFTAR PUSTAKA
1. Merchant SN, Kirtane MV, Shah KL, Karnk PP. Foreign bodies in the bronchi (a 10 years review of 132 cases). Journal of Postgraduate Medicine 1984; 30(4):219-23 or Available at http://www.jpgmonline.com/article.asp?issn=0022-3859;year=1984;volume=30;issue=4;spage=219;epage=23;aulast=Merchant;type=0
2. Junizaf MH. Benda asing di saluran napas. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N, editors. Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT–KL. Jakarta:FKUI, 2004.h.213–31
3. Murray AD. Foreign bodies of airway. 2006. Available at http://emedicine.medscape.com/article/872498-overview
4. Callender T. Laryngo-tracheo-bronchial foreign bodies, 1992. Available at http://www.bcm.edu/oto/grand/2192.html
5. Giannoni CM. Foreign bodies aspiration. 1994. Available at http://www.bcm.edu/oto/grand/31094.html
6. Stewart C. Foreign bodies of the airway: recognition and emergency management. 2002. Available at http://www.strosmith.netcom

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar