Minggu, 04 Desember 2011

tingkat kesadaran dan GCS

Tingkat kesadaran adalah ukuran dari kesadaran dan respon seseorang terhadap rangsangan dari lingkungan, tingkat kesadaran dibedakan menjadi :
  • Compos Mentis (conscious), yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya..
  • Apatis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh.
  • Delirium, yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak, berteriak-teriak, berhalusinasi, kadang berhayal.
  • Somnolen (Obtundasi, Letargi), yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang (mudah dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal.
  • Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap nyeri.
  •  Coma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap rangsangan apapun (tidak ada respon kornea maupun reflek muntah, mungkin juga tidak ada respon pupil terhadap cahaya).
GCS (Glasgow Coma Scale) yaitu skala yang digunakan untuk menilai tingkat kesadaran pasien, (apakah pasien dalam kondisi koma atau tidak) dengan menilai respon pasien terhadap rangsangan yang diberikan.Respon pasien yang perlu diperhatikan mencakup 3 hal yaitu reaksi membuka mata , bicara dan motorik. Hasil pemeriksaan dinyatakan dalam derajat (score) dengan rentang angka 1 – 6 tergantung responnya.
Eye (respon membuka mata) :
(4) : spontan
(3) : dengan rangsang suara (suruh pasien membuka mata).
(2) : dengan rangsang nyeri (berikan rangsangan nyeri, misalnya menekan kuku jari)
(1) : tidak ada respon

Verbal (respon verbal) :
(5) : orientasi baik
(4) : bingung, berbicara mengacau ( sering bertanya berulang-ulang ) disorientasi tempat dan waktu.
(3) : kata-kata saja (berbicara tidak jelas, tapi kata-kata masih jelas, namun tidak dalam satu kalimat. Misalnya “aduh…, bapak…”)
(2) : suara tanpa arti (mengerang)
(1) : tidak ada respon

Motor (respon motorik) :
(6) : mengikuti perintah
(5) : melokalisir nyeri (menjangkau & menjauhkan stimulus saat diberi rangsang nyeri)
(4) : withdraws (menghindar / menarik extremitas atau tubuh menjauhi stimulus saat diberi rangsang nyeri)
(3) : flexi abnormal (tangan satu atau keduanya posisi kaku diatas dada & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri).
(2) : extensi abnormal (tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh, dengan jari mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri).
(1) : tidak ada respon
Hasil pemeriksaan kesadaran berdasarkan GCS disajikan dalam simbol E…V…M…
Selanjutnya nilai-nilai dijumlahkan. Nilai GCS yang tertinggi adalah 15 yaitu E4V5M6 dan terendah adalah 3 yaitu E1V1M1.
Jika dihubungkan dengan kasus trauma kapitis maka didapatkan hasil :
GCS : 14 – 15 = CKR (cidera kepala ringan)
GCS : 9 – 13 = CKS (cidera kepala sedang)
GCS : 3 – 8 = CKB (cidera kepala berat)


Minggu, 20 November 2011

Antibiotik (Ceftriaxon)


PENDAHULUAN
Sebelum membahas tentang ceftriaxon, kita harus mengetahui tentang antibiotik. Karena Ceftriaxon adalah salah satu golongan obat antibiotik.

RIWAYAT PENEMUAN ANTIBIOTIK
Penemuan antibiotika terjadi secara 'tidak sengaja' ketika Alexander Fleming, pada tahun 1928, lupa membersihkan sediaan bakteri pada cawan petri dan meninggalkannya di rak cuci sepanjang akhir pekan. Pada hari Senin, ketika cawan petri tersebut akan dibersihkan, ia melihat sebagian kapang telah tumbuh di media dan bagian di sekitar kapang 'bersih' dari bakteri yang sebelumnya memenuhi media. Karena tertarik dengan kenyataan ini, ia melakukan penelitian lebih lanjut terhadap kapang tersebut, yang ternyata adalah Penicillium chrysogenum syn. P. notatum (kapang berwarna biru muda ini mudah ditemukan pada roti yang dibiarkan lembab beberapa hari). Ia lalu mendapat hasil positif dalam pengujian pengaruh ekstrak kapang itu terhadap bakteri koleksinya. Dari ekstrak itu ia diakui menemukan antibiotik alami pertama: penicillin G.
Penemuan efek antibakteri dari Penicillium sebelumnya sudah diketahui oleh peneliti-peneliti dari Institut Pasteur di Perancis pada akhir abad ke-19 namun hasilnya tidak diakui oleh lembaganya sendiri dan tidak dipublikasi.

PENGERTIAN ANTIBIOTIK
Antibiotika adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri. Penggunaan antibiotika khususnya berkaitan dengan pengobatan penyakit infeksi, meskipun dalam bioteknologi dan rekayasa genetika juga digunakan sebagai alat seleksi terhadap mutan atau transforman. Antibiotika bekerja seperti pestisida dengan menekan atau memutus satu mata rantai metabolisme, hanya saja targetnya adalah bakteri. Antibiotika berbeda dengan desinfektan karena cara kerjanya. Desifektan membunuh kuman dengan menciptakan lingkungan yang tidak wajar bagi kuman untuk hidup.
Tidak seperti perawatan infeksi sebelumnya, yang menggunakan racun seperti strychnine, antibiotika dijuluki "peluru ajaib": obat yang membidik penyakit tanpa melukai tuannya. Antibiotik tidak efektif menangani infeksi akibat virus, jamur, atau nonbakteri lainnya, dan Setiap antibiotik sangat beragam keefektifannya dalam melawan berbagai jenis bakteri. Ada antibiotika yang membidik bakteri gram negatif atau gram positif, ada pula yang spektrumnya lebih luas. Keefektifannya juga bergantung pada lokasi infeksi dan kemampuan antibiotik mencapai lokasi tersebut.
Antibiotika oral (yang dimakan) mudah digunakan bila efektif, dan antibiotika intravena (melalui infus) digunakan untuk kasus yang lebih serius. Antibiotika kadangkala dapat digunakan setempat, seperti tetes mata dan salep.

MACAM – MACAM ANTIBIOTIK
Antibiotika dapat digolongkan berdasarkan sasaran kerja senyawa tersebut dan susunan kimiawinya. Ada enam kelompok antibiotika[1] dilihat dari target atau sasaran kerjanya(nama contoh diberikan menurut ejaan Inggris karena belum semua nama diindonesiakan atau diragukan pengindonesiaannya):
Inhibitor sintesis dinding sel bakteri, mencakup golongan Penicillin, Polypeptide dan Cephalosporin, misalnya ampicillin, penicillin G;
Inhibitor transkripsi dan replikasi, mencakup golongan Quinolone, misalnya rifampicin, actinomycin D, nalidixic acid;
Inhibitor sintesis protein, mencakup banyak jenis antibiotik, terutama dari golongan Macrolide, Aminoglycoside, dan Tetracycline, misalnya gentamycin, chloramphenicol, kanamycin, streptomycin, tetracycline, oxytetracycline;
Inhibitor fungsi membran sel, misalnya ionomycin, valinomycin;
Inhibitor fungsi sel lainnya, seperti golongan sulfa atau sulfonamida, misalnya oligomycin, tunicamycin; dan
Antimetabolit, misalnya azaserine.
Seftriakson ( INN ) (diucapkan / sɛftraɪæksoʊn ˌ / ) adalah generasi ketiga sefalosporin antibiotik . Like other third-generation cephalosporins, it has broad spectrum activity against Gram-positive and Gram-negative bacteria . Seperti sefalosporin generasi ketiga lainnya, ia mempunyai aktivitas spektrum yang luas terhadap Gram-positif dan Gram-negatif bakteri.
KIMIA
Seftriakson adalah oranye-kekuningan bubuk kristal yang mudah larut dalam air, sedikit larut dalam metanol dan sangat sedikit larut dalam etanol. The pH of a 1% aqueous solution is approximately 6.7. The pH dari larutan berair% 1 adalah sekitar 6,7.
The syn -configuration of the methoxy imino moiety confers stability to β-lactamase enzymes produced by many Gram-negative bacteria . The sin-konfigurasi metoksi Imino bagian menganugerahkan stabilitas β-laktamase enzim yang diproduksi oleh banyak bakteri Gram-negatif . Such stability to β-lactamases increases the activity of ceftriaxone against otherwise resistant Gram-negative bacteria. stabilitas tersebut untuk β-laktamase meningkatkan aktivitas ceftriaxone terhadap bakteri Gram-negatif dinyatakan tahan. In place of the easily hydrolysed acetyl group of cefotaxime, ceftriaxone has a metabolically stable thiotriazinedione moiety. Di tempat dengan mudah dihidrolisis asetil kelompok cefotaxime, ceftriaxone memiliki metabolik stabil thiotriazinedione bagian.

NAMA DAGANG
- Bioxon
- Broadced
- Brospec
- Cefaxon
- Cefriex
- Ceftriaxone Hexpharm
- Cefxon
- Cephalox
- Criax
- Ecotrixon
- Elpicef
- Foricef
- Intrix
- Rocephin
- Socef
- Starxon
- Tricefin
- Trijec
- Tyason
- Biotriax

INDIKASI
1.      Pengobatan infeksi saluran nafas bagian bawah
2.      Otitis media bakteri akut
3.      Infeksi kulit dan struktur kulit
4.      Infeksi tulang dan sendi
5.      Infeksi intra abdominal
6.      Infeksi saluran urin
7.      Penyakit inflamasi pelvic (PID)
8.      Gonorrhea
9.      Bakterial septicemia dan meningitis

KONTRA INDIKASI
a.       Pengobatan infeksi saluran nafas bagian bawah
b.      Otitis media bakteri akut
c.       Infeksi kulit dan struktur kulit
d.      Infeksi tulang dan sendi
e.       Infeksi intra abdominal
f.        Infeksi saluran urin
g.       Penyakit inflamasi pelvic (PID)
h.       Gonorrhea
i.         Bakterial septicemia dan meningitis

DOSIS, CARA PEMBERIAN DAN LAMA PEMBERIAN
a)    Dosis :
       Infant dan anak : I. M.;  I. V.
       Infeksi ringan sampai moderat : 50 – 70 mg/kgBB/hari dibagi dalam 1-2 dosis setiap 12-24 jam
       maksimum 2 g/hari; lanjutkan sampai dibawah 2 hari setelah tanda dan gejala dari infeksi berkurang.
       Infeksi yang serius : 80-100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 1-2 dosis maksimim 2 g/hari; maksimum
       4 g/hari.
       Infeksi Gonococcal, uncomplicated : I. M. : 125 mg dosis tunggal.
       Gonococcal conjunctivitis, komplikasi : I. M. :
       1.  <45 kg : 50 mg mg/kgBB/hari dosis tunggal . Maksimum : 1 g.
       2.  >45 kg : 1 g dosis tunggal.
       Gonococcal endokarditis :
       1.  <45 kg : I.M., I.V. 50 mg mg/kgBB/hari setiap 12 jam. Maksimum : 2 g/hari, untuk sekurangnya 
            28 hari.
       2. >45 kg : I. V. 1-2 g setiap 12 jam untuk sekurangnya 28 hari.
       Infeksi Gonococcal, diseminasi :  I.M., I.V. :
       1.  <45 kg : 25-50 mg/kg BB satu kali sehari; maksimum 1 g.
       2.  >45 kg : 1 g satu kali sehari; untuk 7 hari.
       Meningitis : I. M.;  I. V.
       Tanpa komplikasi : loading dose 100 mg/kg BB maksimum 4 g, dilanjutkan sampai 100 mg/kgBB/hari 
       dibagi setiap 12-24 jam, maksimum 4 g/hari; lama pengobatan adalah 7-14 hari
       Gonococcal dengan komplikasi :
      1.  <45 kg : 50 mg mg/kg BB diberikan setiap 12 jam, maksimum 2 g/hari; lama pengobatan 10-14 hari.
      2.  >45 kg : 1-2 g setiap 12 jam, lama pengobatan 10-14 hari.
      Otitis media : I. M.;  I. V. :
     Akut : 50 mg/kg BB dosis tunggal, maksimum 1 g.
Persistent atau relapsing : 50 mg/kg BB dosis tunggal untuk 3 hari.
STD, sexual asault : 125 mg dosis tunggal.
          • Anak > 8 tahun (=45 kg):  dan Adolesents : Epididymitis, akut : I. M. : 125 mg dosis tunggal .
          • Anak =15 tahun : Chemoprohylaxis untuk kontak resiko tinggi dan pasien dengan penyakit invasiv meningococcal : I. M. : 125 mg dosis tunggal
          • Anak > 15 tahun : diberikan dosis dewasa.
          • Dewasa : I. M.;  I. V.
          • Usual dosis I. M.;  I. V. : 1-2 g setiap 12-24 jam tergantung tipe dan keparahan infeksi.
Meningitis : 2 g setiap 12 jam untuk 7-14 hari.
Gonococcal conjunctivitis, komplikasi : I. M. : 1 g dosis tunggal.
Gonococcal endokarditis : I.M., I.V. : 1-2 g setiap 12 jam untuk kurang dari 28 hari.
Infeksi Gonococcal yang menyebar :  I.M., I.V. : 1 g satu kali sehari untuk 7 hari
Infeksi Gonococcal tanpa komplikasi : I. M. : 125-250 mg dosis tunggal untuk setidaknya 28 hari.
PID : 250 mg dosis tunggal.
Surgical Prophylaxis : I. V. : 1 g 30 menit sebelum operasi.
Epididymitis : I. M.  : 250 mg dosis tunggal
Chemoprophylaxis kontak risiko tinggi dan pasien dengan penyakit invasive meningococcal : I. M. : 250 mg dosis tunggal
          • Dosis penyesuaian pada penurunan fungsi ginjal dan kerusakan hepar : tidak perlu penyesuaian dosis.
Dialisa peritoneal : 750 mg setiap 12 jam.
Continuous atau venovenous hemofiltration : diganti 10 mg Seftriakson dengan 1 liter filtrat/hari.
b)    Cara pemberian :
§       Tidak dapat dicampur dengan aminoglikosida dalam wadah yang sama.
§       Injeksi I. M.  Diberikan pada masa yang luas, konsentrasi 250 mg/mL atau 350 mg/mL diperbolehkan untuk semua ukuran vial kecuali 250
c)    Lama penggunaan : sesuai petunjuk dosis diatas. Mg; dapat dilarutkan  untuk injeksi I. M.dengan 1:1 air dan 1% Lidocain

FARMAKOLOGI
a.     Absorbsi : diabsobsi dengan baik setelah pemberian secara I. M.
b.    Distribusi : distribusi secara luas di dalam tubuh termasuk kelenjar empedu, paru, tulang, empedu, CSF , plasenta, melalui amnion dan ASI.
c.     Ikatan protein : 85-95%
d.    Waktu paruh eliminasi : pada hepar dan fungsi ginjal yang normal : 5-9 jam.
e.     Kadar puncak serum : 1-2 jam setelah pemberian secara I. M.
f.      Ekskresi : di urin 33%-65% sebagai obat asal; feses.

STABILITAS PENYIMPANAN
§       Setelah dilarutkan : Stabil pada temperatur 25°C selama 3 hari dan selama 21 hari pada temperatur 50°. Jangan disimpan dalam lemari pendingin, hindari cahaya matahari langsung.
§       Sebelum dilarutkan : Larutan sebelum dicampurkan : simpan -20°C, jika telah dicairkan, larutan stabil selama 3 hari pada suhu kamar 25°C atau selama 21 hari pada suhu 5°C. Jangan disimpan beku.
§       Stabilitas dalam larutan infus : D5W atau NS 10-40 mg/mL :
o       Stabil selama 2 hari pada temperatur 25°C.
o       Stabil selama 10 hari pada lemari pendingin pada temperatur 5°C.
§         Stabilitas dalam larutan infus : D5W atau NS 100 mg/mL :
o       Stabil selama 2 minggu pada temperatur 25°C.
o       10 hari pada refrigerator pada temperatur 5°. Stabil selama 26 hari jika dibekukan pada -20°C.Jika telah dicairkan, larutan stabil selama 2 hari pada suhu kamar 25°C atau 10 hari jika disimpan pada suhu 5°C.
§         100 mg/mL dalam  Lidokain 1% :
o       Stabil selama 24 jam pada temperatur 25°C.
o       Stabil selama 10 hari pada lemari pendingin pada temperatur 5°C.
§         250-350 mg/mL dalam D5W atau NS, Lidokain 1%, atau SWFI :
o       Stabil selama 24 hari pada temperatur 25°C.
o       Stabil selama 10 hari pada lemari pendingin pada temperatur 5°C.

EFEK SAMPING
    1%-10% :
•         Kulit : Rash (2%)
•         Saluran cerna : diare (3%)
•         Hepar : peningkatan transaminase(3,1%-3,3%)
•         Ginjal : peningkatan BUN (1%)
•         Hematologi : eosinophillia (6%); thrombositosis (5%); leukopenia (2%)
•         Lokal : Nyeri selama injeksi (I.V 1%); rasa hangat, tightnes selama injeksi (5%-17%) diikuti injeksi I.M.
    1% :
•         Agranulositosis, alergi pneumonitis, anafilaksis, anemia, basifilia,bronkospasm, kandidiasis,kolitis, diaphoresis, pusing, flushing, gallstones, glycosuria, sakit kepala, hematuri,anemia hemolitikus,jaundice, leukositosis, mual, nefrolitiasis, neutropenia, phlebitis, pruritus, pseudomembranous colitis, batu ginjal, pusing, serum sichness, thrombocitopenia, vaginitis, muntah, peningkatan alkali fosfat, bilirubin dan kreatinin.
•         Dilaporkan reaksi dengan sefalosporin lainnya termasuk angioderma, anemia aplastik, cholestasis, encephalopathy, erythema multiform, pendarahan, nefritis intertisial, neuromuscular excitability, pancytopenia, paresthesia, disfungsi ginjal, sindroma`Steven-Johnson, superinfeksi,nefropati toksik.

INTERAKSI DENGAN OBAT LAIN :
•         Chephalosporin : menigkatkan efek antikoagulan dari derivat kumarin(Dikumarol dan Warfarin)
•         Agen urikosurik: (Probenesid, Sulfinpirazon) dapat menurunkan ekskresi sefalosporin,  monitor efek toksik.

PENGARUH
-         Terhadap Kehamilan :  Faktor risiko : B
-         Terhadap Ibu Menyusui : Seftriakason didistribusikan ke dalam air susu, penggunaan pada ibu menyusui harus disertai perhatian.
-         Terhadap Anak-anak :  -
-         Terhadap Hasil Laboratorium :  Positif pada tes Coombs langsung, positif palsu pada tes glukosa urin menggunakan Cu Sulfat (larutan Benedict, larutan Fehling), positif palsu pada tes kreatinin urin atau serum menggunakan reaksi Jaffe

PARAMETER MONITORING
Observasi tanda dan gejala anafilaksis.

BENTUK SEDIAAN
Mengandung 83 mg (3,6 mEq) per 1 g Seftriakson.
Infus (Dilarutkan Dalam Dextrose) 1 g (50 ml), 2 g (50 ml).
Injeksi Serbuk Dilarutkan Dalam Aqua Proinjeksi 250 mg, 500 mg, 1 g, 2 g, 10.

PERINGATAN
Penyesuaian dosis untuk pasien dengan penurunan fungsi ginjal.
Penggunaan dalam waktu lama mengakibatkan superinfeksi.
Pasien dengan riwayat alergi  terhadap penisilin khususnya reaksi IgE (anafilaktik, urtikaria)

askep tonsilitis



1
PENDAHULUAN
A.
DEFINISITonsil merupakan kumpulan besar jaringan limfoid di belakang faring yang memilikikeaktifan munologik (Ganong, 1998). Tonsil berfungsi mencegah agar infeksi tidakmenyebar ke seluruh tubuh dengan cara menahan kuman memasuki tubuh melaluimulut, hidung dan tenggorokan, oleh karena itu, tidak jarang tonsil mengalamiperadangan.Tonsilitis adalah infeksi atau peradangan pada tonsil. Tonsilitis akut merupakaninveksi tonsil yang sifatnya akut, sedangkan tonsillitis kronik merupakan tonsillitisyang terjadi berulang kali (Sjamsuhidayat & Jong, 1997).
 B.
ETIOLOGITonsilitis disebabkan oleh infeksi bakteri Streptococcus beta hemolyticus,Streptococcuc, viridans dan Streptococcuc pyrogen sebagai penyebab terbanyak,selain itu dapat juga disesbabkan oleh Corybacterium diphteriae, namun dapat jugadisebabkan oleh virus (Mansyjoer, 2001).
 C.
TANDA DAN GEJALA
Penderita biasanya demam, nyeri tengkorak, mungkin sakit berat dan merasa sangatnyeri terutama saat menelan dan membuka mulut disertai dengan trismus (kesulitanmembuka mulut). Bila laring terkena, suara akan menjadi serak. Pada pemeriksaantampak faring hiperemis, tonsil membengkak, hiperemis : terdapat detritus(tonsillitis folibularis)kadang detritus berdekatan menjadi sati (tonsillitis laturasis)atau berupa membrane semu. Tampak arkus palatinus anterior terdorong ke luardan uvula terdesak melewati garis tengah. Kelenjar sub mandibula membengkak dannyeri tekan, terutama pada anak-anak.Pembesaran adenoid dapat menyebabkan pernafasan mulut, telinga mengeluarkancairan, kepala sering panas, bronchitis, nafas baud an pernafasan bising.
D.
PEMERIKSAAN / EVALUASI DIAGNOSTIK
Dilakukan pemeriksaan fisik menyeluruh, dan pengumpulan riwayat kesehatan yangcermat untuk menyingkirkan kondisi sistemik atau kondisi yang berkaitan. Usaptonsilar dikultur untuk menentukan adanya infeksi bakteri. Jika tonsil adenoid ikutterinfeksi maka dapat menyebabkan otitis media supuratif yang mengakibatkankehilangan pendengaran, pasien harus diberikan pemeriksaan audiometik secaramenyeluruh sensitivitas/ resistensi dapat dapat dilakukan jika diperlukan.
E.
TONSILEKTOMIPembesaran tonsil jarang merupakan indikasi untuk pengakalan kebanyakan anak-anak mempunyai tonsil yang besar, yang ukuranya akan menurun sejalan denganperlambatan usia.
Tonsilektomi dilakukan hanya jika pasien mempunyai masalah-masalah berikut :a. Menderita tonsillitis berulangb. Hipertrifi tonsil dan adenoid yang dapat menyebabkan obstruksi.c. Serangan otitis media purulens berulang.

2
d. Diduga kehilangan pendengaran akibat otitis media serosa yang terjadi dalamkalbunya dengan pembasaran konal dan adenoid.e. Kecurigaan keganasan tonsil pada orang dewasa muda dan dewasa.f. Indikasi khusus anak adalah tonsillitis rekurens yang kambuh lebih dari 3 kali,hyperplasia setelah infeksi mononukleus dan riwayat demam rheumatik dengangangguan jantung yang berhubungan dengan tonsillitis kronik yang sukar diatasidengan antibiotic.g. Tonsilektomi pada orang dewasa dapat dikerjakan dalam narkose atau dengananestesi local, pada anak biasanya dilakukan dalam narkose.
F.
PENATALAKSANAANPada penderita tonsillitis, terlebih dahulu harus diperhatikan pernafasan dan statusnutrisinya. Jika perbesaran tonsil menutupi jalan nafas, maka perlu dilakukantonsilektomi, demikian juga jika pembesaran tonsil menyebabkan kesulitan menelandan nyeri saat menelan, menyebabkan penurunan nafsu makan / anoreksia. Padapenderita tonsillitis yang tidak memerlukan tindakan operatif (tonsilektomi), perludilakukan oral hygiene untuk menghindari perluasan infeksi, sedangkan untukmengubahnya dapat diberikan antibiotic, obat kumur dan vitamin C dan B.Pemantauan pada penderita pasca tonsilektomi secara kontinu diperlukan karenaresiko komplikasi hemorraghi. Posisi yang paling memberikan kenyamanan adalahkepala dipalingkan kesamping untuk memungkinkan drainage dari mulut dan faringuntuk mencegah aspirasi. Jalan nafas oral tidak dilepaskan sampai pasienmenunjukkan reflek menelanya telah pulih.Jika pasien memuntahkan banyak darah dengan warna yang berubah atau berwarnamerah terang pada interval yang sering, atau bila frekuensi nadi dan pernafasanmeningkat dan pasien gelisah, segera beritahu dokter bedah. Perawat harusmempunyai alat yang disiapkan untuk memeriksa temapt operasi terhadapperdarahan, sumber cahaya, cermin, kasa, nemostat lengkung dan basin pembuang.Jika perlu dilakukan tugas, maka pasien dibawa ke ruang operasi, dilakukan anastesiumur untukmenjahit pembuluh yang berdarah. Jika tidak terjadi perdarahanberlanjut beri pasien air dan sesapan es. Pasien diinstruksikan untuk menghindaribanyak bicara dan bentuk karena hal ini akan menyebabkan nyeri tengkorak.Setelah dilakukan tonsilektomi, membilas mulut dengan alkalin dan larutan normalsalin hangat sangat berguna dalam mengatasi lender yang kental yang mungkin ada.Diet cairan atau semi cair diberikan selama beberapa hari serbet dan gelatin adalahmakanan yang dapat diberikan. Makanan pedas, panas, dingin, asam atau mentahharus dihindari. Susu dan produk lunak (es krim)mungkin dibatasi karena makanan ini cenderung meningkatkan jumlah mucus yangterbentuk.

3
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
I.
PENGKAJIAN
 a.
Aktivitas / istirahatGejala :
Kelemahan
Kelelahan (fatigue)
 b.
SirkulasiTanda :
Takikardia
Hiperfentilasi (respons terhadap aktivitas)
 c.
Integritas EgoGejala :
Stress
Perasaan tidak berdayaTanda : Tanda- tanda ansietas, mual : gelisah, pucat, berkeringat,perhatian menyempit.
 d.
EliminasiGejala : Perubahan pola berkemihTanda : Warna urine mungkin pekat
 e.
Makanan / cairanGejala :
Anoreksia
Masalah menelan
Penurunan menelan
Tanda :
Membran mukosa kering
Turgor kulit jelek
 f.
Nyeri / kenyamananGejala :
Nyeri pada daerah tenggorokan saat digunakan untuk menelan.
Nyeri tekan pada daerah sub mandibula.
Faktor pencetus : menelan ; makanan dan minuman yang dimasukkan melaluioral, obat-obatan.Tanda : - Wajah berkerut, berhati-hati pada area yang sakit, pucat,berkeringat, perhatian menyempit.2
 II.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
 a.
Bersihan jalan bafas tidak efektif berhubungan dengan dengan obstruksi nafaskarena adanya benda asing; produksi secret berlebih.
 b.
Nyeri berhubungan dengan pembengkakan jaringan; insisi bedah
 c.
Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan dengananoreksia ; kesulitan menelan.
 d.
Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang pemahaman, pemajaran /mengingat.

4
 e.
Resiko kekurangan vol. cairan berhubungan dengan resiko perdarahan akibattindakan operatif tondilektomi.
III.
INTERVENSI & RASIONALISASI
 a.
Dx Kep : Bersihan jalan nafas tidak efektif berdasarkan dengan jalan nafaskarena adanya benda asing; produksi secret berlebih.Batasan Karakteristik :
Dupnea
Orthopnea
Kesulitan bicara
Perubahan ritme dan frekuensi pernafasan
Gelisah
Suara nafas tambahan
Sianosis
Penurunan suara nafas
Batuk tidak efektif 
Produksi secret / spulum
Tujuan :
Dupria, Orthopnea, kranosis tidak ada
Ritme dan frekuensi pernafasan alam batas normal
Gelisah dapat dikeluarkan
Tidak ada suara nafas tambahan.INTERVENSI :
Kaji / pantau frekuensi pernafasanRasional:Adanya obstruksi jln nafas dapat / tidak dimanifestasikan adanya bunyi nafasadventisius.
Auskutasi bunyi nafas, cabit adanya bunyi nafasRasional:Adanya obstruksi jln nafas dapat / tidak dimanifestasikan adanya bunyi nafasadventisius.
Catat adanya dispnea, gelisah, ansiebis distress pernafasan, penggunaan ototbantuRasional:Disfungsi pernafasan adalah variable yang tergantung pada tahap proseskronis selain proses akut yang menimbulkan perawatan dirumah sakit.
Kajian pasien untuk posisi yang nyaman, mis : Peninggian kepala tempattidur, duduk pada sandaran tempat tidur.
Rasional:Peninggian tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan denganmenggunakan gravitasi
Lakukan oral hygiene dengan teratur.
Rasional:

5
Oral hygiene dapat mencegah proses infeksi berlanjut dan dapat mengontrolpengeluaran secret.
Bila perlu lakukan suctioning
Rasional:Suchoring membantu pengeluaran secret pada pasien yang tidak mampumengeluarkan secret secara mandiri melalui bentuk efektif.
Oksigenasi - Takipnea dapat ditemukan pada penerimaan atau selamaadanya proses infeksi akut.
Rasional:Pemberian oksigen dapat membantu klien mencukupi kebutuhan oksigenyang mungkin tidak tercukupi dengan baik akibat obstruksi jalan nafas.
b.
Dx. Kep : Nyeri berhubungan dengan pembengkakan jaringan ; insisi bedahBatasan karakteristik :
Komunikasi tentang nyeri yang didiskripsikan
Mengatupkan rahang atau pergelangan tangan
Ketidaknyamanan paa area bedah / nyeri karena menelan
Perilaku Distraksik, gelisah
Perilaku berhati-hatiTujuan :
Melaporkan / menunjukkan nyeri hilang/ terkotrol
Melaporkan bias beristurahatINTERVENSI :
Berikan tindakan nyaman (pijatan punggung,perubhan posisi) dan aktifitashiburanRasional:Meningkatkan relaksasi dan membantu pasien memfokuskan perhatian pdsesuatu disamping diri sendiri/ketidaknyamanan
Dorong pasien untuk mengeluarkan saliva atau penghisap mulut denganhati-hati bila tdk mampu menelanRasional:Menelan menyebabkan aktifitas otot ygdpt menimbulkan nyeri karenaadanya edema/regangan jahitan
Selidiki perubahan karakteristik nyeri,periksa mulut jahitan atau traumabaruRasional:Dapat menunjukkan terjadinya komplikasi yg memerlukan evaluasilanjut/intervensi jaringan yg terinflamasi dan kongesti,dpt dgn mudahmengalami trauma dgn penghisapan kateter,selang makanan
Catat indikator non verbal dan respon automatik terhadap nyeri,evaluasiefek analgesikRasional:Alat menentukan adanya nyeri,kebutuhan terhadap keefektifan obat

6
Jadwalkan aktifitas perawatan untuk keseimbangan dengan periode tidur /istirahat adekuatRasional:mencegah kelekahan / terlalu lelah dan dapat meningkatkan kopingterhadap stress / ketidaknyamanan.
Anjurkan penggunaan perilaku manajemen stress contoh : teknik relaksasi,bimbingan imajinasi.Rasional:Meningkatkan rasa sehat, tidak menurunkan kebutuhan analgesic danmeningkatkan penyembuhan* Kolaborasi
Berikan irigasi oral, anestesi sprei dan kumur-kumur. Anjurkan pasienmelakukan irigasi sendiriRasional:Memperbaiki kenyamanan, meningkatkan penyembuhan dan menurunkanbau mulut. Bahan pencuci mulut berisi alcohol fenol harus dihindari karenamempunyai efek mengeringkan.
Berikan analgetikRasional:Derajat nyeri sehubungan dengan luas dan dampak psikologi pembedahansesuai dengan kondisi tubuh
c.
Dx kep : Resiko kekurangan cairan berhubungan dengan resiko perdarahanakibat tindakan operatif Tujuan :
Mendemonstrasikan keseimbangan cairan yang adekuat
TTV stabil, palpasi denyut nadi dengan kualitas yang baik
Turgor kulit normal, membrane mukosa lembab
Pengeluaran urine individu yang sesuai
INTERVENSI
Catat pemasukan dan pengeluaran catatan inroperasi
Rasional:Dokumentasi yang akurat akan membantu dalam mengidentifikasipengeluaran cairan / kebutuhan penggantian dan pilihan yangmempengaruhi intervensI.
Munculnya mual / muntah, riwayat pasien mabuk perjalanan
Rasional:Semakin lama durasi anestesi, semakin besar rasio mual yang mempunyaikecenderungan mabuk perjalanan mempunyai resiko mual/ muntah yanglebih tinggi pada masa pascaoperasi.
Pantau suhu kulit, palpasi denyut perifer
Rasional:Kulit yang dingin / lembab, denyut yang lemah mengindikasikan untukpenggantian cairan tambahan.
* Kolaborasi
Berikan cairan parenteral, sesuai petunjuk

4
 e.
Resiko kekurangan vol. cairan berhubungan dengan resiko perdarahan akibattindakan operatif tondilektomi.
III.
INTERVENSI & RASIONALISASI
 a.
Dx Kep : Bersihan jalan nafas tidak efektif berdasarkan dengan jalan nafaskarena adanya benda asing; produksi secret berlebih.Batasan Karakteristik :
Dupnea
Orthopnea
Kesulitan bicara
Perubahan ritme dan frekuensi pernafasan
Gelisah
Suara nafas tambahan
Sianosis
Penurunan suara nafas
Batuk tidak efektif 
Produksi secret / spulum
Tujuan :
Dupria, Orthopnea, kranosis tidak ada
Ritme dan frekuensi pernafasan alam batas normal
Gelisah dapat dikeluarkan
Tidak ada suara nafas tambahan.INTERVENSI :
Kaji / pantau frekuensi pernafasanRasional:Adanya obstruksi jln nafas dapat / tidak dimanifestasikan adanya bunyi nafasadventisius.
Auskutasi bunyi nafas, cabit adanya bunyi nafasRasional:Adanya obstruksi jln nafas dapat / tidak dimanifestasikan adanya bunyi nafasadventisius.
Catat adanya dispnea, gelisah, ansiebis distress pernafasan, penggunaan ototbantuRasional:Disfungsi pernafasan adalah variable yang tergantung pada tahap proseskronis selain proses akut yang menimbulkan perawatan dirumah sakit.
Kajian pasien untuk posisi yang nyaman, mis : Peninggian kepala tempattidur, duduk pada sandaran tempat tidur.
Rasional:Peninggian tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan denganmenggunakan gravitasi
Lakukan oral hygiene dengan teratur.
Rasional:

5
Oral hygiene dapat mencegah proses infeksi berlanjut dan dapat mengontrolpengeluaran secret.
Bila perlu lakukan suctioning
Rasional:Suchoring membantu pengeluaran secret pada pasien yang tidak mampumengeluarkan secret secara mandiri melalui bentuk efektif.
Oksigenasi - Takipnea dapat ditemukan pada penerimaan atau selamaadanya proses infeksi akut.
Rasional:Pemberian oksigen dapat membantu klien mencukupi kebutuhan oksigenyang mungkin tidak tercukupi dengan baik akibat obstruksi jalan nafas.
b.
Dx. Kep : Nyeri berhubungan dengan pembengkakan jaringan ; insisi bedahBatasan karakteristik :
Komunikasi tentang nyeri yang didiskripsikan
Mengatupkan rahang atau pergelangan tangan
Ketidaknyamanan paa area bedah / nyeri karena menelan
Perilaku Distraksik, gelisah
Perilaku berhati-hatiTujuan :
Melaporkan / menunjukkan nyeri hilang/ terkotrol
Melaporkan bias beristurahatINTERVENSI :
Berikan tindakan nyaman (pijatan punggung,perubhan posisi) dan aktifitashiburanRasional:Meningkatkan relaksasi dan membantu pasien memfokuskan perhatian pdsesuatu disamping diri sendiri/ketidaknyamanan
Dorong pasien untuk mengeluarkan saliva atau penghisap mulut denganhati-hati bila tdk mampu menelanRasional:Menelan menyebabkan aktifitas otot ygdpt menimbulkan nyeri karenaadanya edema/regangan jahitan
Selidiki perubahan karakteristik nyeri,periksa mulut jahitan atau traumabaruRasional:Dapat menunjukkan terjadinya komplikasi yg memerlukan evaluasilanjut/intervensi jaringan yg terinflamasi dan kongesti,dpt dgn mudahmengalami trauma dgn penghisapan kateter,selang makanan
Catat indikator non verbal dan respon automatik terhadap nyeri,evaluasiefek analgesikRasional:Alat menentukan adanya nyeri,kebutuhan terhadap keefektifan obat

6
Jadwalkan aktifitas perawatan untuk keseimbangan dengan periode tidur /istirahat adekuatRasional:mencegah kelekahan / terlalu lelah dan dapat meningkatkan kopingterhadap stress / ketidaknyamanan.
Anjurkan penggunaan perilaku manajemen stress contoh : teknik relaksasi,bimbingan imajinasi.Rasional:Meningkatkan rasa sehat, tidak menurunkan kebutuhan analgesic danmeningkatkan penyembuhan* Kolaborasi
Berikan irigasi oral, anestesi sprei dan kumur-kumur. Anjurkan pasienmelakukan irigasi sendiriRasional:Memperbaiki kenyamanan, meningkatkan penyembuhan dan menurunkanbau mulut. Bahan pencuci mulut berisi alcohol fenol harus dihindari karenamempunyai efek mengeringkan.
Berikan analgetikRasional:Derajat nyeri sehubungan dengan luas dan dampak psikologi pembedahansesuai dengan kondisi tubuh
c.
Dx kep : Resiko kekurangan cairan berhubungan dengan resiko perdarahanakibat tindakan operatif Tujuan :
Mendemonstrasikan keseimbangan cairan yang adekuat
TTV stabil, palpasi denyut nadi dengan kualitas yang baik
Turgor kulit normal, membrane mukosa lembab
Pengeluaran urine individu yang sesuai
INTERVENSI
Catat pemasukan dan pengeluaran catatan inroperasi
Rasional:Dokumentasi yang akurat akan membantu dalam mengidentifikasipengeluaran cairan / kebutuhan penggantian dan pilihan yangmempengaruhi intervensI.
Munculnya mual / muntah, riwayat pasien mabuk perjalanan
Rasional:Semakin lama durasi anestesi, semakin besar rasio mual yang mempunyaikecenderungan mabuk perjalanan mempunyai resiko mual/ muntah yanglebih tinggi pada masa pascaoperasi.
Pantau suhu kulit, palpasi denyut perifer
Rasional:Kulit yang dingin / lembab, denyut yang lemah mengindikasikan untukpenggantian cairan tambahan.
* Kolaborasi
Berikan cairan parenteral, sesuai petunjuk